BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Al-Qur’an adalah mukjizat bagi umat
Islam yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada umat
manusia. Al-Qur’an sendiri dalam proses penurunannya mengalami banyak proses
yang mana dalam penurunannya itu berangsur-angsur dan bermacam-macam nabi
menerimanya. Kita mengenal turunnya Al-Qur’an sebagai tanggal 17 Ramadhan. Maka
setiap bulan 17 Ramadhan kita mengenal yang namanya Nuzulul Qur’an yaitu hari
turunnya Al-Qur’an.
Wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi) di
turunkan kepada manusia sebagai panduan hidup, ia merupakan anugrah terbesar
dari Allah untuk hamba-Nya, agar kehidupan sang hamba tidak melenceng dari
tujuan penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah, dan Allah juga memberi
anugrah berupa nalar, nalar di anugrahkan untuk membuat manusia agar bisa
memahami ayat-ayat ciptaan-Nya.Dan untuk memahami pesan Al-Qur’an sebagai suatu
kesatuan adalah dengan mempelajarinya dalam konteks Latar Belakang di
turunkannya Al-Quran atau yang sering di sebut Asbabun Nuzul.Dan dalam
pembuatan makalah ini, sengaja kami bahas tetang semua yang mencakup tentang
segala sesuatu baik berupa cerita yang bisa menjadi penyebab di turunkannya
Al-Qur’an.Semoga apa yang kami bahas dalam makalah ini, dapat menjadi bahan
atau objek untuk kita lebih dapat memahami lagi makna Al-Qur’an.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
yang dikemukakan diatas dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian dari Asbabun nuzul itu ?
2. Bagaimana cara mengetahui Asbabun Nuzul?
3. Sebab-sebab turunnya ayat (Asbabun Nuzul) ?
4. Bagaimana aplikasi asbabun nuzul dalam
penafsiran ayat pendidikan ?
C.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan
penulisan makalah atau karya tulis ini adalah sebagaimana berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian dari Asbabun nuzul itu.
2. Untuk mengetahui macam-macam dari asbabun nuzul.
3. Untuk mengetahui faedah (manfaat) dari mempelajari asbabun nuzul
itu.
4. Untuk mengetahui Bagaimana aplikasi asbabun
nuzul dalam penafsiran ayat pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Asbabun Nuzul
Menurut
bahasa (etimologi), asbabun nuzul berarti turunnya ayat-ayat Al-Qur’an dari
kata “Asbab” jamak dari “sababa” yang artinya sebab-sebab, nuzul yang artinya
turun. Yang dimaksud disini adalah ayat al-Qur’an. Asbabun nuzul adalah suatu
peristiwa atau pertanyaan yang menyebabkan turunnya ayat-ayat al-Qur’an baik
secara langsung atau tidak langsung.
Secara garis besarnya, sepanjang
kenabian Muhammad SAW, paling tidak ada dua pembagian asbabul nuzul (sebab
turunnya) Al-Qur’an. Pertama, dikatakan bahwa ada sebagian besar Al-Qur’an ini
yang turunnya ibtida’i artinya turun tanpa sebab. Jenis yang kedua, dimana
Al-Qur’an itu turun berdasarkan satu sebab, nuzul bi sabab.[1]Ada
beberpapa defenisi yang dikemukakan oleh ahli tafsir tentang Asbabun Nuzul :
1.
Menurut
Az-Zarqani :[2]
هو ما نزلت الأية أو الأيات متحدثة
عنه أو مبينة لحكمه أيام وقوعه.
“Asbabun Nuzul adalah sesuatu yang
karenanya satu atau beberapa ayat turun membicarakan ataumenjelaskan hukum pada
saat peristiwa itu terjadi”
2. Menurut Subhi Shalih :
ما نزلت الآية اوآيات بسببه متضمنة
له او مجيبة عنه او مبينة لحكمه زمن وقوعه.
“Asbabun Nuzul adalah sesuatu yang menjadi
sebab turunnya satu atau beberapa ayat al-Qur’an yang terkadang menyiratkan
suatu peristiwa sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap
hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi”.
3. Menurut Ash-Shabuni :[3]
قد تحصل واقعة، أو تحدث حادثة، فتنزل
أية، أو أيات كريمة فى شأن تلك الواقعة أو الحادثة، وقد يعرض سؤل على النبي صلى الله عليه وسلم بقصد
معرفة الحكم الشرعى، أو الإستفسار عن أمر من أمور الدين.
“Bahwa turunnya suatu ayat disebabkan atau oleh adanya suatu
peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan peristiwa tersebut, baik itu
berupa pertanyaan kepada Nabi SAW ataupun kejadian yang berkaitan dengan urusan
agama”.
4. Menurut Fahdi Ibnu abdi Rahman bin Sulaiman Ar-Rummi
mendefinisikan asbabun nuzul adalah :[4]
ما نزل قرأن بسأنه وقت وقوعه
“Al-Qur’an
diturunkan berdasarakan keadaan dan waktu kejadiannya”
5. Abdul Aziz Aita Malik mendefinisikan Asbabun Nuzul yaitu :[5]
الاول:
أن تحدث حادثة فيتنزل القرآن الكريم بشانها. الثاني: أن يُسال رسول الله صلى الله عليه وسلم عن شيء،
فيتنزل القرآن ببيان الحكم فيه.
Jadi berdasarkan pengertian definisi diatas bahwasannya Asbab
an-Nuzul adalah hal khusus atau sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan
turunnya ayat al-Qur’an yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat
peristiwa itu terjadi juga Asbabun Nuzul adalah sesuatu yang karenanya satu atau beberapa ayat
turun membicarakan atau menjelaskan hukumnya pada hari terjadinya, ia merupakan
peristiwa yang terjadi pada masa nabi atau pertanyaan yang diajukan kepada
beliau, lalu turun satu atau beberapa ayat dari Allah SWT untuk menjelaskan
sesuatu yang tekait dengan peristiwa itu atau menjawab pertanyaan tersebut,
baik peristiwa itu merupakan pertikaian yang berkembang, atau merupakan suatu
kesalahan besar, harapan, keinginan yang kuat, peristiwa yang sedang terjadi
atau bisa juga peristiwa yang akan terjadi. Juga berdasarkan pengertian yang
dikemukakan para ahli di atas dapat ditarik dua kategori mengenai sebab
turunnya sebuah ayat. Pertama, sebuah ayat turun ketika terjadi sebuah
peristiwa sebagaimana yang diriwayatkan Ibn Abbas tentang perintah Allah SWT
kepada Nabi SAW untuk memperingatkan kerabat dekatnya. Lalu, Nabi SAW naik ke
bukit Shafa dan memperingatkan kaum kerabatnya akan azab yang pedih. Karena
itu, Abu Lahab berkata: “Celakalah engakau! Apakah engakau mengumpulkan kami
hanya untuk urusan ini? Lalu ia berdiri, dan turunlah surah al-Lahab.
Kedua, Sebuah ayat turun bila Rasulullah SAW ditanya tentang
sesuatu hal, untuk menjawab pertanyaan itu turunlah ayat Al-Qur’an yang
menerangkan hukumnya seperti pengaduan Khaulah binti Tsa’labah kepada Nabi SAW
berkenaan dengan zhihar yang dijatuhkan suaminya Aus bin Samit, padahal saat
itu, Khaulah binti Tsa’labah telah menghabiskan masa mudanya dan sering
melahirkan sehingga menjadi tua
karenanya. Ketika suaminya men-zhihar dirinya saat sudah berusia tua dan tidak bisa melahirkan lagi, ia pun
protes. Lalu, mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah SAW tentang kasus yang
menimpanya. Kemudian turunlah ayat: “Sesungguhnya Allah telah mendengar
perkataan perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya”, yakni Aus bin
Samit.[6]
Al-Qur’an yang merupakan mujizat sekaligus pedoman bagi umat manusia, untuk
memahaminya ada berbagai macam ilmu salah satunya yakni Asbabun Nuzul, karena
asbabun nuzul langsung mengarah kepada pristiwa sejarah yang disandarkan kepada
Nabi Muhammad SAW, karena beliaulah pembawa risalah Al-Qur’an selama 23 tahun.
B.
Macam-Macam Asbabun Nuzul
a.
Dilihat
dari bentuknya Asbabun Nuzul dibagi menjadi 2 yaitu :[7]
1.
Al-Qur’an
yang turunnya ibtida’i artinya turun tanpa sebab
الأول : قسم نزول من الله ابتداء غير
مرتبط بسبب من الأسباب الخاصة.
2.
Al-Qur’an
turun berdasarkan satu sebab, nuzul bi sabab
الثانى : قسم نزول مرتبطا بسبب من
الأسباب الخاصة يسمى العلماء سبب نزول الأية. قال أيضا :
نزولمرتبطابسببمنالأسبابالخاصة كحادثة و قعت فى زمن النبي.[8]
Maka pada
masa Rasululloh SAW menerimah wahyu dan masa penurunanya, Al-Qur’an tersebut
ada yang yang tidak memiliki sebab turunya ayat tersebut, dan juga ada yang
diturunkan berdasarkan suatu sebab berupa peristiwa, atau sesuatu yang
ditanyakan kepada Rasululloh SAW, tetapi menurut para ulama ayat yang tidak
memilik sebab turunya lebih sedikit.
b.
Dilihat
dari Sudut Pandang Redaksi-Redaksi yang dipergunakan dalam Riwayat Asbabun
Nuzul yaitu :[9]
1)
Sharih
(jelas/pasti)
Sharih
artinya riwayat yang sudah jelas menunjukkan Asbabun Nuzul, dan tidak mungkin pula
menunjukkan yang lainnya. Redaksi yang
sharih/jelas, apabila perawi mengatakan :
سبب نزول هذه الأيةهذا....
“sebab turun
ayat ini adalah...
Bila
perawi mengatakan dengan memasukkan huruf “fa Ta’qibiyah” (maka datanglah
sesudah itu) maka yang masuk materi nuzul ayat sesudah dia menerangkan kejadian
atau dia menyebut suatu pernyataan yang dikemukakan kepada Rasul, seperti ia
mengatakan :
حَدَ ثَ كَدَا...اَوْ سل النبي عليه
السلام عن كدا فنزلت اية كد
“Telah
terjadi begini. Atau telah dinyatakan kepada Nabi saw, tentang hal ini maka
turunlah ayat ini.” Maka yang
demikian itu merupakan nash yang nyata dalam menerangkan sebab.
2)
Muhtamilah
(tidak pasti/kemungkinan)
Mengenai
sumber yang dijelaskan dengan kemungkinan / tidak pasti mengenai sebab nuzul ayat
oleh para perawi atau dalam riwayat. Adapun redaksi yang muhtamilah (tidak
pasti), Ungkapan-ungkapan yang dipakai oleh para perawi mengenai sumber yang
dijelaskan dengan kemungkinan / tidak pasti mengenai sebab nuzul ayat oleh para
perawi atau dalam riwayat. Al-Zarkasyi dalam Al-Burhan berkata : “Telah
terkenal dari kebiasaan sahabat dan tabi’in bahwa apabila mereka mengatakan:
نزلت هده الأية في كدا..
“Ayat ini
berkenaan dengan...”
Maka
maksud beliau-beliau itu ialah menerangkan bahwa ayat itu mengandung hukum itu,
bukan menyatakan sebab nuzulnya. Segolongan ahli hadits menggolongkan perkataan
semacam itu kedalam hadits marfu’, seperti pada perkataan Ibnu Umar :
نسا ؤكم حرث لكم
“Isteri-isterimu
adalah sawah ladang bagimu”
Sebagaimana kita ketahui, bahwasanya dalam
penukilan atau membuat suatu Asbab Nuzul ayat tidak boleh membuat ungkapan
tanpa dasar sesuatu, menurut para ulama, dalam menentukan asbab nuzul ayat
harus berdasarkan perkataan yang diriwayatkan (Hadits), atau kabar tersebut
langsung dari saksi yang menyaksikan turunya suatu ayat dengan sebab-sebab
tertentu.
C. Manfaat Asbabun Nuzul
Mengetahui Asbabun Nuzul sangat besar
pengaruhnya dalam memahami makna-makna ayat dalam Al-Qur’an, oleh karena itu
ulama sangat berhati-hati dalam memahami asbabun nuzul, adapun manfaat asbabun
nuzul yaitu :
قال
إبن دقيق العيد : بيان سبب النزول طريق قوي فى فهم معانى القرأن.[10]
“Imam
Ibnu Daqieq al-Ied mengemukakan bahwa keterangan sebab turunnya ayat adalah
cara yang kuat dan penting dalam memahami makna-makna Al-Qur’an”
قال
الواحدي : لا يمكن معرفة تفسير الأية دون الوقوف على قصتها و بيان نزولها.
“Imam
Al-Wahidi mengatakan: Tidak mungkin orang bisa mengetahui tafsir suatu ayat,
tanpa mengetahui kisah dan penjelasan mengenai turunnya lebih dahulu”
قال
ابن تيمية : معرفة سبب النزول يعين على فهم الأية، فإن العلم بالسبب يورث الغلم
بالمسبب.
“Ibnu Taimiyah
mengatakan: Mengetahui asbabun nuzul sangat membantu untuk memahami ayat.
Sesungguhnya dengan mengetahui sebab akan mendapatkan ilmu Musabbab”
Menurut
Nurddin Itr manfaat Asbabnuzul Ada 4 hal antara lain :[11]
الإستعانة على فهم المعنى المراد،
معريفة وجه الحكمة التى ينطوى عليها تسريع الحكم، إزالة الإشكال عن ظاهر النص لمن
لم يتعرف سبب النزول، كشف أسرار البلاغة فى القرأن العظيم.
“Asbabun
Nuzul membantu dalam memahami arti dan maksud sebuah ayat, Dapat mengetahui
hikmah yang meliputi disyari’atkannya hokum, Menghilangkan kesulitan
(kebingungan) pada sebuah nash, mengungkap rahasia keindahan Retorika Al-Qur’an”
Kholid
Ibn Sulaiman Al-Mazaini berpendapaat dalam kitabnya Al-Mukharar fi Asbab
Nuzulil Qur’an yaitu :[12]
أن معرفة سبب النزول يعين فهم
الاية.أن العلم بسبب النزول يرفع الإشكال.أن معرفة سبب النزول الحكمة الداعية إلى
تشريع الحكم.أن يخصص الحكم بالسبب الذى نزل من أجله.بيان أخصية السبب بالحكم. معرفة
التاريخ.
“Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul membantu dalam memahami ayat,
ilmu asbab nuzul menghilangkan Kesulitan (kebingungan), Dapat mengetahui hikmah
disyari’atkannya hukum, Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat
Al-Qur’an (bagi ulama yang berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab
yang bersifat khusus dan bukan lafaz yang bersifat umum), Penjelasan
pengkhususan suatu hokum, Pengetahuan tentang sejarah.
Dari pendapat diatas bahwasanya asbabun nuzul sangat penting dalam pengetahuan
tentang Sabab Al-Nuzul membawa kepada pengetahuan tentang rahasia dan tujuan
Allah secara khusus mensyari’atkan Agama-Nya melalui Al-Qur’an, pengetahuan
tentang asbab al-nuzul membantu dalam memahami ayat dan menghindarkan
kesulitannya, pengetahuan tentang Sabab Al-Nuzul dapat menolak dugaan adanya
pembatasan dalam ayat yang menurut lahirnya mengandung pembatasan, pengetahuan
tentang Sabab Al-Nuzul dapat mengkhususkan hukum pada sebab menurut ulama yang
memandang bahwa yang mesti diperhatikan adalah kekhususan sebab dan bukan
keumuman lafal, dengan mempelajari Sabab Al-Nuzul diketahui pula sebab turunnya
ayat tidak pernah keluar dari hukum yang terkandung dalam ayat tersebut
sekalipun datang yang mengkhususkannya, dengan Sabab Al-Nuzul, diketahui orang yang
ayat tertentu turun padanya secara tepat sehingga tidak terjadi kesamaran,
pengetahuan tentang Sabab Al-Nuzul akan mempermudah orang menghapal ayat-ayat
Al-Qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang
mendengarnya jika ia mengetahui sebab turunnyayang mana semuanya itu penting
dalam mentafsirkan Al-Qur’an.
D.
Cara Mengetahui Asbabun Nuzul
Menurut Az-Zarqoni beliau mengatakan bahwa :
لا طريقة لمعرفة أسباب النزول إلا
النقل الصحيح، و من هنا لا يحل القول فى أسباب النزول إلا بالرواية و السماع ممن
شاهدوا التنزيل ووقفوا على الأسباب و بحثوا عن علمها.[13]
“Tidak ada acara lain untuk mengetahui suatu sebab turunya
(Al-Qur’an) kecuali dengan Menyebutkan yang benar, maka dari itu tidak
diperbolehkan suatu perkataan/pernyataan untuk menjadi sebab turunya
(Al-Qur’an) kecuali dengan riwayat dan mendengar dari orang-orang yang
menyaksikan proses turunya ayat tersebut dan mengetahui sebab dan mencari ilmunya”
Menurut Abdul Satar Jabar Ghayub Al-Mahmudybeliau mengemukakan
bahwa :
إن الطريقة إلى معرفة أسباب النزول
هو النقل الصحيح عن الصحابة رضي الله عنهم الذين عاصروا نزول القرأن و وقفوا على
أسباب نزوله.[14]
“Sesungguhnya cara untuk mengetahui Asbabun
Nuzul adalah dengan menyatakan suatu kebenaran dari sahabat-sahabat yang hidup
pada masa Al-Qur’an itu diturunkan dan mengetahui sebab penurunannya.
Ada sebuah Hadits dari Ibn Abbas r.a beliau berkata :[15]
أخبرنا أبو إبراهيم إسماعيل بن
إبراهيم الوعظ قال : أخبرنا أبو الحسين محمد بن أحمد بن حامد العطار حدثنا أحمد بن
الحسين بن عبد الجبار حدثنا ليث بن حماد حدثنا أبو عوانة، عن عبد الأعلى عن سعيد
بن جبير، عن ابن عباس قال : قال رسولو الله صلى الله عليه وسلم " اتقوا
الحديث عنى إلاّ ما علمتم، فإنه من كذب علىّ متعمدا فليتبوأ مقعده من النار. و من
كذب على القرأن من غير علم فليتبوأ مقعده من النار.
“Janganlah kalian mengatakan suatu hadits dariku, kecuali apa yang
aku ajarkan pada kalian, karena barang siapa yang berdusta atas namaku dengan
sengaja, maka bersiap-siaplah mengambil tempatnya di neraka, dan barang siapa
yang berbicara tentang Al-Qur’an berdasarakan Ra’yu nya (Akal pikiranya), maka
bersiap-siaplah mengambiltempatnya dineraka.
(HR. Ibnu Abbas. Hadits Hasan Imam Abu A’la)
Asbabun nuzul tidak
boleh hanya dengan melalui akal atau pendapat, tetapi mestilah dengan riwayat
yang sahih dan pendengaran, juga hendaklah mereka itu menyaksikan sendiri ayat
itu diturunkan atau pun mereka yang mengetahui sebab-sebabnya dan mengkaji
tentangnya terdiri daripada sahabat, tabi’in dan mereka yang bersungguh-sungguh
mengkaji ilmu ini yang terdiri daripada kalangan ulama yang dipercayai.Untuk
itu, ulama Salaf dan ahli Tafsir begitu teliti dan sangat berhati-hati dalam
perkara ini, di mana ulama mengetahui Asbab Nuzul dan perkara yang berkaitan
dengan sebab penurunan al-Quran dengan melalui riwayat para Tabi’in dan para
sahabat atau juga melalui riwayat yang secara sah berasal daripada Nabi, tetapi
tidak semua riwayat yang disandarkan kepadanya dapat dipegang. Riwayat yang
dapat dipegang adalah riwayat yang memenuhi syarat-syarat tertentu sebagaimana
ditetapkan oleh para ahli hadis, Secara khusus dari riwayat asbabun nuzul
adalah riwayat dari orang yang terlibat dan mengalami peristiwa yang
diriwayatkannya (yaitu pada saat wahyu diturunkan). Riwayat yang berasal dari
para tabi’in yang tidak merujuk kepada Rasulullah SAW dan sahabatnya dianggap
lemah (Dhaif); Sebab itu, seseorang tidak dapat begitu saja menerima pendapat
seorang penulis atau orang seperti itu bahwa suatu diturunkan dalam keadaan
tertentu. Karena itu, kita harus mempunyai pengetahuan tentang siapa yang
meriwayatkan peristiwa tersebut, dan apakah ia memang sungguh-sungguh
menyaksikan, dan kemudian siapa yang menyampaikannya kepada kita.
E.
Aplikasi Asbabun Nuzul dalam Pentafsiran Ayat Pendidikan
a. QS. Ali-Imron ayat 79
“ Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya
Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: "Hendaklah
kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi
(dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu
selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali-Imron : 79)
Asbabun Nuzul
Asbabun Nuzul ayat ini adalah, Ibnu Ishaq dan al-baihaqi meriwayatkan Ibnu
Abbas, dia berkata, “abu Rafi’ al-Qarzhi berkata, ‘ketika pendeta yahudi dan
Nasrani dari Najran berkumpul di tempat Rasulullah dan beliau mengajak mereka
untuk masuk Islam, mereka berkata, ‘apakah engkau ingin agar kami menyembahmu
sebagaimana orang-orang Nasrani
menyembah Isa? Maka Rasulullah menjawab, Na’uudzu billah (Kami
berlindung kepada Allah dari Hal itu). Maka Allah
menurunkan ayat ini.[16]
Abdurrazzaq dalam tafsirnya meriwayatkan dari Hasan
al-Bashri, dia berkata, “sampai kepada saya bahwa seorang laki-laki berkata
kepada Rasulullah. “wahai Rasulullah, kami akan mengucapkan salam kepadamu
sebagaimana kami mengucapkan salam kepada sesama kami. Lalu apakah kami perlu
bersujud kepadamu? Rasulullah menjawab: Tidak, akan tetapi muliakanlah Nabi
kalian dan ketahuilah hak keluarganya. Karena Sesungguhnya tidak sepantasnya
seseorang sujud kepada selain Allah. Lalu Allah menurunkan Ayat ini.[17]
Penafsiran Ayat
Ayat ini
menjelaskan bahwa tidak patut bagi seseorang yang telah diberinya oleh Allah
Al-Kitab, hikmah dan kenabian lalu meminta-minta orang menyembahnya tanpa Allah
atau menyembahnya bersama-sama dengan Allah. Jika hal yang demikian tidak patut bagi seorang nabi atau
rasul, maka lebih-lebih bagi seorang lain yang bukan nabi atau rasul. Karena
itu berkata Hasan Al-Bashri: “tidak patut bagi seorang Mukmin meminta dari
orang lain untuk menyembahnya.” Janganlah seperti ahli Kitab yang menyembah
para pendeta-pendetanya.
Celaan Allah
terhadap para rahib dan pendeta yang disembah oleh pengikut-pengikutnya itu
tidak menjangkau para rasul dan para ulama yang didikuti dan diturut oleh
pengikut-pengikutnya karena Nabi dan Rasul ini hanya memerintahkan apa yang
diperintahkan oleh Allah dan menyampaikan kepada umatnya apa yang dirisalahkan
dan diwahyukan kepada mereka. Dan melarang apa yang dilarang oleh Allah. Karena
para Rasul itu adalah utusan Allah kepada hamba-hamba-Nya, menyampaikan apa
yang diamanatkan kepada mereka tugas yang telah dilaksanakannya dengan
sebaik-baiknya.
Allah memberitahu
para rasul itu untuk mengajak umat manusia agar menjadi ahli ibadah dan
bertaqwa (rabbaniyin) sesuai dengan apa yang mereka pelajari dan ketahui
dari Al-Qur’an dan kitab-kitab Allah. Sekali-kali rasul itu tidak pernah
mengajak umat manusia untuk menjadikan malaikat dan nabi sebagai Tuhan yang
disembah, bahkan para rasul itu tidak menyuruh orang menyembah selain Allah,
apakah itu seorang nabi atau seorang malaikat. Para Rasul itu hanya menyembah kepada Alaah dan tidak
menyekutukannya.[18]
Nilai Pendidikan
Sesuai dengan ayat ini
bahwa dalam belajar apabila kita mempunyai ilmu yang tinggi dan berpengetahuan
luas maka janganlah kita sesekali untuk sombong kepada orang lain, ingin dipuji
atau ingin disanjung oleh orang lain, akan tetapi kita hendaknya selalu bersikap
rendah hati dan tidak sombong kepada orang lain. Dan
Ilmu yang telah kita pelajari itu hendaknya kita amalkan dalam bentuk ibadah
dan bertaqwa kepada Allah SWT.
b. QS. Ar-Rahman ayat 1-4
“ (tuhan) yang Maha pemurah, yang telah mengajarkan Al Quran, Dia menciptakan manusia, mengajarnya
pandai berbicara.” (QS. Ar-Rahman : 1-4).
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun setelah terjadi pelecehan orang
kafir setelah ada perinta untuk bersujud kepada Allah yang terdapat dalam surat
al-Furqon ayat 60 :
“ Dan apabila dikatakan kepada mereka:
"Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang", mereka
menjawab:"Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah Kami akan sujud kepada
Tuhan yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?", dan (perintah
sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).” (QS. Al-Furqan : 60).
Ayat ini merupakan bantahan bagi kaum kafir yang mengungkapkan mereka tidak
mengenal seseorang yang bernama Rahman kecuali Rahman dari yamamah. Maka ayat ini
menegaskan bahwa Arrahman bukanlah dia tetapi Allah yang maha Rahman yang telah
mengajarkan Al-Qur’an dan telah menciptakan manusia.[19]
Tafsir Ar – Rahman Ayat 1
Dalam konteks ayat ini dapat ditambahkan bahwa kaum musyrikin mekah tidak
mengenal siapa ar-Rahman sebagaimana pengakuan mereka yang direkam oleh
Qs. Al-Furqon ayat 60. Dimulainya surat ini dengan kata tersebut bertujuan juga
mengundang rasa ingin tahu mereka dengan harapan akan tergugah untuk mengakuan
nikmat-nikmat dan beriman kepada-Nya.Di sisi lain, penggunaan kata rerbut di
sini sambilmenguraikan nikmat-nikmat-Nya, merupakan juga bantahan terhadap
merka yang enggan mengakui-Nya itu.[20]
Arti Ar-Rahman
adalah amat luas. Kalimat dalam pengambilannya ialah
Rahmat. Yang berarti kasih, sayang, cinta pemurah. Dia meliputi kepada segala
segi dari kehidupan manusia dan terbentang di dalam segala makhluk yang wujud
dalam dunia ini. Didalam ayat-ayat al-Qur’an kita akan bertemu dengan ayat-ayat
yang menyebutkan Ragmat Allah, tidak kurang daripada 60 kali, Rahim sampai 100 kali.
Maka apabila
kita perhatikan al-Qur’an dengan seksama,kita akan bertemu hampir pada
tiap-tiap halaman, kalimat-kalimat Rahman, Rahim, Rahmat, Rahmati, Rahimi,
Ruhamaak, Arhaman, al-Arhaam, yang semuanya itu mengandung arti akan kasih,
sayang, pemurah, kesetiaan dan lain-lain. Artinya pada sifat-sifat yang lain,
misalnya sifat santun, sifat Afuwwun (pemaaf), sifat Ghoffur (pengampun) dan
lain-lain, didalamnya kalu kita renungkan, akan bertemu kasih-sayang tuhan,
kemurahan tuhan, dermawan Tuhan.[21]
Tafsir Ar- Rahman Ayat 2
عَلَّمَ
الْقُرْءَانَ (Yang telah mengajarkan al-Qur’an). Dalam kata عَلَّمَ (Telah mengajarakan) disini maksud telah mengajarkan diartikan kepada siapa
yang dikehendakkinya.[22]
sedangkan kata ‘allama (Telah mengajarakan) memerlukan dua objek. Banyak ulama yang menyebutkan
objeknya adalah kata (الإنسان) manusia yang diisyaratkan oleh ayat berikutnya. Thabathabai
menambahkan bahwa jin juga trmasuk, kerena surat tersebut ditunjukan kepada
manusia dan jin. Menurut Penulis, bisa saja objeknya mencakup selain kedua
jenis tersebut. Melaikt jibrilyang menerima dari Allah wahyu-wahyu al-Qur’an
untuk disampaikan kepada Rasul Saw., termasuk yang diajarnya, karena bagaimana
mungkin malaikat itu dapat menyampaikan bahkan mengajarkan firman Allah itu
kepad Nabi Muhhammad Saw. Kalau malaikat itu sendiri tidak memperoleh
pengajaran Allah SWT, disisilain, tidak disebutkannya objek kedua dari kata
tersebut, mengisyaratkan bahwa ia bersifat umum dan mencakup segala sesuatu
yang dapatr dijangkau oleh pengajaran-Nya.[23]
Al-Qur’an
adalah firman-firman Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi
Muhammad saw. Dengan lafal dan maknanya yang beribadah siapa yang membacanya,
dan menjadi bukti kebenaran mukjizat Nabi Muhammad saw.
Dan
inilah salah satu dari Rahman, atau kasih sayang dari Allah kepad manusia,yaitu
diajarkan kepada manusia itu al-Qur’an
Tafsir Ayat 3 Surat
Ar-Rahman
خَلَقَ
الْإنْسَن (yang
Menciptakan Manusia).
Kata (الْإنْسَنا)
pada ayat ini mencakup semua jenis manusia sejak adam hingga akhri
zaman.[24]
Penciptaan manusia pun satu diantara tanda
Rahman Tuhan kepada alam ini. Sebab dantara bagitu banyak makluk Ilahi didalam
alam, mausia satu-satunya makhluk paling mulia. Kemuliaan itu lah salah satu
bentuk rahmat ilahi :
dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak
Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari
yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas
kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.[25]
Tafsir
ar-Rahman ayat 4
عَلَّمَهُ
الْبَيَانَ (mengajarnya
berbicara), Al-Hasam mengatakan, “yang dimaksud dengan dengan al-bayan ialah
pengujaran, yaitu membaca al-Qur’an. Pembacaan itu dengan memudahkan pengujaran
kepada hamba-hambaNya dan memudahkan dalam mengartikulasikan huruf-huruf dari
daerah-daerah artikulator, yaitu tenggorakan, lidah, dan bibir sesuai dengan
keragaman artikulasi dan jenis huruf.[26]
Sedangkan dalam
Tafsir al-Misbah kata al-bayan pada mulanya berarti jelas. Kata tersebut
di sini dipahami oleh Thabathaba’i dalam arti “potensi mengungkap” yakni
kalam/ucapan yang dengannya dapat terungkap apa yang terdapat dalam benak.
Lebih lanjut ulama ini menyatkan bahwa kalam bukan skedar mewujudkan suara
dengan menggunakan rongga dada, tali suara dan kerongkongan. Bukan juga hanya
dalam keanekaragaman suara yang keluar dari kerongkongan karena perbedaan
makharij al-hrurf dari mulut, tetapi juga bahwa Allah yang maha Esa menjadikan
manusia dengan mengilhaminya mampu memahami makna suara yang keluar itu, yang
dengannya dia dapat menghadirkan sesuatu dari alam nyata ini, berapapun besar
atau kecilnya yang wujud yang berkaitan dengan masa laumpau atau datang, dan
menghadirkan dalam benaknya hal-hal yang abstrak yang dapat dijangkau oleh
manusia dengan pikirannya walau tidak dijangkau dengan indra.[27]
Nilai Pendidikan
Kandungan Hukum dalam Surat ar-Rahman ayat 1-4
, dari ayat pertam ( الرحمن) ar-Rahman, yang memiliki arti pengasih kepada
makhluknya tanpa keterkecuali baik kepada yang beriman maupun yang
mengingkarinya, disini jika dikaitkan dengan pendidikan adalah kita sebagai
pendidik harus memilik sifat yang pengasih tanpa pengecualian baik kepada yang
pintar, pendiam, dan yang nakal. Kita harus menyayanginya tanpa pandang bulu.
Mengajarkan Qur’an. Ini
menunjukan bahwa seorangguru harus terlebih dahulu mempersiapkan Qur’an, dalam
konteks ini qur’an diterjemahkan dengan materi pelajaran, sebelum guru berada
dihadapan siswa. guru harus terlebih dahulu mempersiapkan dalam artian
menguasai, memahami materi yang akan disampaikankepada siswa. sehingga seorang
guru dapat maksimal mentransfer ilmunya kepadasiswa.
Khalaqal Insan Menciptakan Manusia.
Menilik tujuan utama dari pendidikan adalah mencetak manusia yang
sempurna, yang berpengetahuan, berakhlak dan beradab. tentu tidak ada
manusia yang sempurna, namun berusaha menjadi manusia yang sempuranaadalah
suatu kewajiban. Seorang guru apapun materi yang ia ajarkan
hendaknyamengarahkan siswanya menjadi manusia yang berpengetahuan, beradab
dan bermartabat yang berujung kepada ketaqwaan kepada Yang Maha Esa. bukan
hanyamengarahkan pada aspek prestasi saja.
Allamahul Bayan Mengajarkan Dengan Jelas. Ayat ini kaitannya dengan proses pendidikan
adalah seorang guru apapun pelajaran yang disampaikan, sampaikanlah dengan
sejelas-jelasnya, sampai pada tahap seorang siswa benar-benar faham. jangan
sampai seorang siswa belum betul-betul faham pada materi yang diajarkan sudah
pindah kemateriyang lain. banyak kasus di negeri ini, demi mengejar target
pencapaiankurikulum,prinsip memberi kefahaman diabaikan, efeknya kita tahu
semua.
BAB III
SUMPULAN dan PENUTUP
A.
Simpulan
Asbab
an-Nuzul adalah hal khusus atau sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan
turunnya ayat al-Qur’an yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat
peristiwa itu terjadi jugaAsbabun Nuzul adalah sesuatu yang karenanya satu atau
beberapa ayat turun membicarakan atau menjelaskan hukumnya pada hari
terjadinya, ia merupakan peristiwa yang terjadi pada masa nabi atau pertanyaan
yang diajukan kepada beliau, lalu turun satu atau beberapa ayat dari Allah SWT
untuk menjelaskan sesuatu yang tekait dengan peristiwa itu atau menjawab
pertanyaan tersebut, baik peristiwa itu merupakan pertikaian yang berkembang,
atau merupakan suatu kesalahan besar, harapan, keinginan yang kuat, peristiwa
yang sedang terjadi atau bisa juga peristiwa yang akan terjadi.
B.
Penutup
Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat
waktu dan senantiasa diberikan kemudahan oleh allah swt. Kami menyadari dalam
penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan untuk itu kami senantiasa
meminta saran dan kritik yang sifatnya membangun kepada semua pihak guna kesempurnaan makalah
ini. Dan semoga makalah ini bermanfaat khususnya kepada penulis dan umumnya
bagi para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
‘Imaduddin Muhammad
Ar-Rasyid, Asbabun Nuzul Wa Atsaruha Fi Bayani An-Nusus, Damaskus : Dar Asyhab, 1999
A. Mudjab Mahali, Asbabun Nuzul: Studi
Pendalaman Al-Qur’an Surah Al-Baqarah dan An- Nas, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2002.
Abdul Aziz Aita
Malik, Ulumul Qur’an Inda Imam As-Suhaily, 2006
Abdul Satar Jabar Ghayub Al-Mahmudy, Ilmu Asbabun Nuzulil Qur’an,
Baghdad : Diwan Waqf Sini,
2014.
Abu Anwar, Ulumul
Qur’an, Pekan Baru : Amzah, 2009.
Ahmad Izzan, Ulumul
Qur’an (Telaah Tekstual dan Kontekstual Al-Qur’an), Bandung:
Tafakur HUMANIORA,
2009.
Ahmad
mustofa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, Semarang : PT. Karya Toha Putra
Semarang,1974. M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Jakarta : Lentera hati, 2002.
Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Terjemah Taisiru al-Aliyyul
Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta:
Gema Insan, 2006
Fahdi Ibnu abdi
Rahman bin Sulaiman Ar-Rummi, Dirasat fi Ulumil Al-Qur’an Al-Karim, Riyadh : Kamil,2005
Hamka, Tafsir Al Azhar Juz XXVII, Jakarta
: Pustaka Panjimas Jakarta.
Imam jalaluddin Al-Mahalli dan Imam jalaluddin As-Syuti, Terjemah
Tafsir Jalalain jilid 2, Sinar
Baru Algensindo
Imam
Jalaludin Abdurrahman As-Shuyuty, Al-Itqan
Fi Ulumil Qur’an, Saudi Arabia : Dar Al- Hujrah, 1992.
Jalaluddin As-Suyuthi, Asbabun Nuzul: sebab
turunnya ayat Al-Qur’an Terjemah., (Jakarta: Gema Insani, 2008).
Kholid Ibn Sulaiman Al-Mazaini, Al-Mukharar fi Asbab Nuzulil Qur’an min
Khilalil Kutub At- Tis’ah, Saudi
Arabia : Dar Ibn Jauzi, 1427 H.
Muhammad Abdul Adzim Az-Zarqoni, Mahil Al-Urfani fi Ulumil Qur’an,
Bairut : Dar Kitab Arabi, 1995.
Muhammad Ahmad
Ma’bad, Nufakhat Min Ulumil Qur’an, Madinah : Maktabah Toyibah, 1986
Muhammad Ali
Ash-Shabuni, At-Tibyan fi Ulumil Qur’an, Pakistan: Maktabah
Al-Busro,1390.
Nurddin Itr, Ulumul
Qur’an Al-Karim, Damaskus : Mathi’ah As-Shabk, 1993.
Rosihon Anwar, Ulum
Al-Qur’an, Bandung: Pustaka Setia, 2010.
Salim Bahreisy dan
Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid II, Surabaya:
PT Bina Ilmu, 1990
[1] . Abu Anwar, Ulumul
Qur’an, (Pekan Baru : Amzah, 2009), h. 29
[2] . Muhammad
Abdul Adzim Az-Zarqoni, Mahil Al-Urfani fi Ulumil Qur’an, ( Bairut : Dar
Kitab Arabi, 1995). h.89
[3] . Muhammad Ali
Ash-Shabuni, At-Tibyan fi Ulumil Qur’an, (Pakistan: Maktabah Al-Busro,
1390), h. 36
[4] . Fahdi Ibnu
abdi Rahman bin Sulaiman Ar-Rummi, Dirasat fi Ulumil Al-Qur’an Al-Karim,
(Riyadh : Kamil,2005), h. 149
[5] . Abdul Aziz
Aita Malik, Ulumul Qur’an Inda Imam As-Suhaily, 2006. H. 27
[6] . Ahmad Izzan,
Ulumul Qur’an (Telaah Tekstual dan Kontekstual Al-Qur’an), (Bandung:
Tafakur HUMANIORA, 2009), h. 181-182
[7] . Fahdi Ibnu
abdi Rahman bin Sulaiman Ar-Rummi, Dirasat fi Ulumil Al-Qur’an Al-Karim,
h. 148
[8]. Muhammad
Ahmad Ma’bad, Nufakhat Min Ulumil Qur’an, (Madinah : Maktabah Toyibah,
1986). h. 61
[9] . Rosihon
Anwar, Ulum Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka Setia, 2010). h. 60-68
[10] . Imam
Jalaludin Abdurrahman As-Shuyuty, Al-Itqan
Fi Ulumil Qur’an,(Saudi Arabia : Dar Al-Hujrah, 1992). h. 134
[11] . Nurddin Itr,Ulumul
Qur’an Al-Karim, (Damaskus : Mathi’ah As-Shabk, 1993). h. 47-48
[12] . Kholid Ibn
Sulaiman Al-Mazaini, Al-Mukharar fi Asbab Nuzulil Qur’an min Khilalil Kutub
At-Tis’ah,(Saudi Arabia : Dar Ibn Jauzi, 1427 H), h. 26-35
[13] . Muhammad
Abdul Adzim Az-Zarqoni, Mahil Al-Urfani fi Ulumil Qur’an, h. 95
[14] . Abdul Satar
Jabar Ghayub Al-Mahmudy, Ilmu Asbabun Nuzulil Qur’an, (Baghdad : Diwan
Waqf Sini, 2014). h. 47
[15]. ‘Imaduddin
Muhammad Ar-Rasyid, Asbabun Nuzul Wa Atsaruha Fi Bayani An-Nusus,
(Damaskus : Dar Asyhab, 1999). h. 34
[16] . A. Mudjab
Mahali, Asbabun Nuzul: Studi Pendalaman Al-Qur’an Surah Al-Baqarah dan
An-Nas, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002). H. 159.
[17] . Jalaluddin
As-Suyuthi, Asbabun Nuzul: sebab turunnya ayat Al-Qur’an Terjemah., (Jakarta: Gema Insani, 2008). H. 124-125.
[18]
. Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah
Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid II, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1990). H.
114-115.
[19]
. Ahmad
mustofa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, Semarang : PT. Karya Toha Putra
Semarang,1974. hlm. 185
[22]
. Imam jalaluddin Al-Mahalli dan Imam
jalaluddin As-Syuti, Terjemah Tafsir Jalalain jilid 2, (Sinar Baru
Algensindo) hlm. 984
[23]
. Imam jalaluddin Al-Mahalli dan Imam
jalaluddin As-Syuti, Terjemah Tafsir Jalalain jilid 2,
hlm. 494
[24]
. Imam jalaluddin Al-Mahalli dan Imam
jalaluddin As-Syuti, Terjemah Tafsir Jalalain jilid 2,
hlm. 495
[26]
. Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Terjemah
Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta, Gema
Insan, 2006). Hlm. 540
Tidak ada komentar:
Posting Komentar