Senin, 13 Maret 2017

Asbabun Nuzul

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
            Al-Qur’an adalah mukjizat bagi umat Islam yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada umat manusia. Al-Qur’an sendiri dalam proses penurunannya mengalami banyak proses yang mana dalam penurunannya itu berangsur-angsur dan bermacam-macam nabi menerimanya. Kita mengenal turunnya Al-Qur’an sebagai tanggal 17 Ramadhan. Maka setiap bulan 17 Ramadhan kita mengenal yang namanya Nuzulul Qur’an yaitu hari turunnya Al-Qur’an.
            Wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi) di turunkan kepada manusia sebagai panduan hidup, ia merupakan anugrah terbesar dari Allah untuk hamba-Nya, agar kehidupan sang hamba tidak melenceng dari tujuan penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah, dan Allah juga memberi anugrah berupa nalar, nalar di anugrahkan untuk membuat manusia agar bisa memahami ayat-ayat ciptaan-Nya.Dan untuk memahami pesan Al-Qur’an sebagai suatu kesatuan adalah dengan mempelajarinya dalam konteks Latar Belakang di turunkannya Al-Quran atau yang sering di sebut Asbabun Nuzul.Dan dalam pembuatan makalah ini, sengaja kami bahas tetang semua yang mencakup tentang segala sesuatu baik berupa cerita yang bisa menjadi penyebab di turunkannya Al-Qur’an.Semoga apa yang kami bahas dalam makalah ini, dapat menjadi bahan atau objek untuk kita lebih dapat memahami lagi makna Al-Qur’an.

B.  Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian dari Asbabun nuzul itu ?
2. Bagaimana cara mengetahui Asbabun Nuzul?
3. Sebab-sebab turunnya ayat (Asbabun Nuzul) ?
4. Bagaimana aplikasi asbabun nuzul dalam penafsiran ayat pendidikan ?

C.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah atau karya tulis ini adalah sebagaimana berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian dari Asbabun nuzul itu.
2. Untuk mengetahui macam-macam dari asbabun nuzul.
3. Untuk mengetahui faedah (manfaat) dari mempelajari asbabun nuzul itu.
4. Untuk mengetahui Bagaimana aplikasi asbabun nuzul dalam penafsiran ayat pendidikan.





BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Asbabun Nuzul
           Menurut bahasa (etimologi), asbabun nuzul berarti turunnya ayat-ayat Al-Qur’an dari kata “Asbab” jamak dari “sababa” yang artinya sebab-sebab, nuzul yang artinya turun. Yang dimaksud disini adalah ayat al-Qur’an. Asbabun nuzul adalah suatu peristiwa atau pertanyaan yang menyebabkan turunnya ayat-ayat al-Qur’an baik secara langsung atau tidak langsung.
           Secara garis besarnya, sepanjang kenabian Muhammad SAW, paling tidak ada dua pembagian asbabul nuzul (sebab turunnya) Al-Qur’an. Pertama, dikatakan bahwa ada sebagian besar Al-Qur’an ini yang turunnya ibtida’i artinya turun tanpa sebab. Jenis yang kedua, dimana Al-Qur’an itu turun berdasarkan satu sebab, nuzul bi sabab.[1]Ada beberpapa defenisi yang dikemukakan oleh ahli tafsir tentang Asbabun Nuzul :
1.      Menurut Az-Zarqani :[2]
هو ما نزلت الأية أو الأيات متحدثة عنه أو مبينة لحكمه أيام وقوعه.
“Asbabun Nuzul adalah sesuatu yang karenanya satu atau beberapa ayat turun membicarakan ataumenjelaskan hukum pada saat peristiwa itu terjadi”
2. Menurut Subhi Shalih :
ما نزلت الآية اوآيات بسببه متضمنة له او مجيبة عنه او مبينة لحكمه زمن وقوعه.
“Asbabun Nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat al-Qur’an yang terkadang menyiratkan suatu peristiwa sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi”.
3. Menurut Ash-Shabuni :[3]
قد تحصل واقعة، أو تحدث حادثة، فتنزل أية، أو أيات كريمة فى شأن تلك الواقعة أو الحادثة، وقد  يعرض سؤل على النبي صلى الله عليه وسلم بقصد معرفة الحكم الشرعى، أو الإستفسار عن أمر من أمور الدين.
“Bahwa turunnya suatu ayat disebabkan atau oleh adanya suatu peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan peristiwa tersebut, baik itu berupa pertanyaan kepada Nabi SAW ataupun kejadian yang berkaitan dengan urusan agama”.
4. Menurut Fahdi Ibnu abdi Rahman bin Sulaiman Ar-Rummi mendefinisikan asbabun nuzul adalah :[4]
ما نزل قرأن بسأنه وقت وقوعه
“Al-Qur’an diturunkan berdasarakan keadaan dan waktu kejadiannya”
5. Abdul Aziz Aita Malik mendefinisikan Asbabun Nuzul yaitu :[5]
الاول: أن تحدث حادثة فيتنزل القرآن الكريم بشانها. الثاني: أن يُسال رسول الله صلى الله عليه وسلم عن شيء، فيتنزل القرآن ببيان الحكم فيه.
           Jadi berdasarkan pengertian definisi diatas bahwasannya Asbab an-Nuzul adalah hal khusus atau sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan turunnya ayat al-Qur’an yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi juga Asbabun Nuzul adalah sesuatu yang karenanya satu atau beberapa ayat turun membicarakan atau menjelaskan hukumnya pada hari terjadinya, ia merupakan peristiwa yang terjadi pada masa nabi atau pertanyaan yang diajukan kepada beliau, lalu turun satu atau beberapa ayat dari Allah SWT untuk menjelaskan sesuatu yang tekait dengan peristiwa itu atau menjawab pertanyaan tersebut, baik peristiwa itu merupakan pertikaian yang berkembang, atau merupakan suatu kesalahan besar, harapan, keinginan yang kuat, peristiwa yang sedang terjadi atau bisa juga peristiwa yang akan terjadi. Juga berdasarkan pengertian yang dikemukakan para ahli di atas dapat ditarik dua kategori mengenai sebab turunnya sebuah ayat. Pertama, sebuah ayat turun ketika terjadi sebuah peristiwa sebagaimana yang diriwayatkan Ibn Abbas tentang perintah Allah SWT kepada Nabi SAW untuk memperingatkan kerabat dekatnya. Lalu, Nabi SAW naik ke bukit Shafa dan memperingatkan kaum kerabatnya akan azab yang pedih. Karena itu, Abu Lahab berkata: “Celakalah engakau! Apakah engakau mengumpulkan kami hanya untuk urusan ini? Lalu ia berdiri, dan turunlah surah al-Lahab.
         Kedua, Sebuah ayat turun bila Rasulullah SAW ditanya tentang sesuatu hal, untuk menjawab pertanyaan itu turunlah ayat Al-Qur’an yang menerangkan hukumnya seperti pengaduan Khaulah binti Tsa’labah kepada Nabi SAW berkenaan dengan zhihar yang dijatuhkan suaminya Aus bin Samit, padahal saat itu, Khaulah binti Tsa’labah telah menghabiskan masa mudanya dan sering melahirkan  sehingga menjadi tua karenanya. Ketika suaminya men-zhihar dirinya saat sudah berusia tua  dan tidak bisa melahirkan lagi, ia pun protes. Lalu, mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah SAW tentang kasus yang menimpanya. Kemudian turunlah ayat: “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya”, yakni Aus bin Samit.[6] Al-Qur’an yang merupakan mujizat sekaligus pedoman bagi umat manusia, untuk memahaminya ada berbagai macam ilmu salah satunya yakni Asbabun Nuzul, karena asbabun nuzul langsung mengarah kepada pristiwa sejarah yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, karena beliaulah pembawa risalah Al-Qur’an selama 23 tahun.


B.  Macam-Macam Asbabun Nuzul

a.       Dilihat dari bentuknya Asbabun Nuzul dibagi menjadi 2 yaitu :[7]
1.      Al-Qur’an yang turunnya ibtida’i artinya turun tanpa sebab
الأول : قسم نزول من الله ابتداء غير مرتبط بسبب من الأسباب الخاصة.
2.      Al-Qur’an turun berdasarkan satu sebab, nuzul bi sabab
الثانى : قسم نزول مرتبطا بسبب من الأسباب الخاصة يسمى العلماء سبب نزول الأية. قال أيضا : نزولمرتبطابسببمنالأسبابالخاصة كحادثة و قعت فى زمن النبي.[8]
           Maka pada masa Rasululloh SAW menerimah wahyu dan masa penurunanya, Al-Qur’an tersebut ada yang yang tidak memiliki sebab turunya ayat tersebut, dan juga ada yang diturunkan berdasarkan suatu sebab berupa peristiwa, atau sesuatu yang ditanyakan kepada Rasululloh SAW, tetapi menurut para ulama ayat yang tidak memilik sebab turunya lebih sedikit.
b.      Dilihat dari Sudut Pandang Redaksi-Redaksi yang dipergunakan dalam Riwayat Asbabun Nuzul yaitu :[9]
1)      Sharih (jelas/pasti)
Sharih artinya riwayat yang sudah jelas menunjukkan Asbabun Nuzul, dan tidak mungkin pula menunjukkan yang lainnya. Redaksi yang  sharih/jelas, apabila perawi mengatakan :
سبب نزول هذه الأيةهذا....
“sebab turun ayat ini adalah...
Bila perawi mengatakan dengan memasukkan huruf “fa Ta’qibiyah” (maka datanglah sesudah itu) maka yang masuk materi nuzul ayat sesudah dia menerangkan kejadian atau dia menyebut suatu pernyataan yang dikemukakan kepada Rasul, seperti ia mengatakan :
حَدَ ثَ كَدَا...اَوْ سل النبي عليه السلام عن كدا فنزلت اية كد
“Telah terjadi begini. Atau telah dinyatakan kepada Nabi saw, tentang hal ini maka turunlah ayat ini.” Maka yang demikian itu merupakan nash yang nyata dalam menerangkan sebab.

2)      Muhtamilah (tidak pasti/kemungkinan)
Mengenai sumber yang dijelaskan dengan kemungkinan / tidak pasti mengenai sebab nuzul ayat oleh para perawi atau dalam riwayat. Adapun redaksi yang muhtamilah (tidak pasti), Ungkapan-ungkapan yang dipakai oleh para perawi mengenai sumber yang dijelaskan dengan kemungkinan / tidak pasti mengenai sebab nuzul ayat oleh para perawi atau dalam riwayat. Al-Zarkasyi dalam Al-Burhan berkata : “Telah terkenal dari kebiasaan sahabat dan tabi’in bahwa apabila mereka mengatakan:
نزلت هده الأية في كدا..
“Ayat ini berkenaan dengan...”
Maka maksud beliau-beliau itu ialah menerangkan bahwa ayat itu mengandung hukum itu, bukan menyatakan sebab nuzulnya. Segolongan ahli hadits menggolongkan perkataan semacam itu kedalam hadits marfu’, seperti pada perkataan Ibnu Umar :
نسا ؤكم حرث لكم
“Isteri-isterimu adalah sawah ladang bagimu”
          Sebagaimana kita ketahui, bahwasanya dalam penukilan atau membuat suatu Asbab Nuzul ayat tidak boleh membuat ungkapan tanpa dasar sesuatu, menurut para ulama, dalam menentukan asbab nuzul ayat harus berdasarkan perkataan yang diriwayatkan (Hadits), atau kabar tersebut langsung dari saksi yang menyaksikan turunya suatu ayat dengan sebab-sebab tertentu.

C.    Manfaat  Asbabun Nuzul
            Mengetahui Asbabun Nuzul sangat besar pengaruhnya dalam memahami makna-makna ayat dalam Al-Qur’an, oleh karena itu ulama sangat berhati-hati dalam memahami asbabun nuzul, adapun manfaat asbabun nuzul yaitu :
قال إبن دقيق العيد : بيان سبب النزول طريق قوي فى فهم معانى القرأن.[10]
“Imam Ibnu Daqieq al-Ied mengemukakan bahwa keterangan sebab turunnya ayat adalah cara yang kuat dan penting dalam memahami makna-makna Al-Qur’an”
قال الواحدي : لا يمكن معرفة تفسير الأية دون الوقوف على قصتها و بيان نزولها.
“Imam Al-Wahidi mengatakan: Tidak mungkin orang bisa mengetahui tafsir suatu ayat, tanpa mengetahui kisah dan penjelasan mengenai turunnya lebih dahulu”
قال ابن تيمية : معرفة سبب النزول يعين على فهم الأية، فإن العلم بالسبب يورث الغلم بالمسبب.
“Ibnu Taimiyah mengatakan: Mengetahui asbabun nuzul sangat membantu untuk memahami ayat. Sesungguhnya dengan mengetahui sebab akan mendapatkan ilmu Musabbab”
Menurut Nurddin Itr manfaat Asbabnuzul Ada 4 hal antara lain :[11]
الإستعانة على فهم المعنى المراد، معريفة وجه الحكمة التى ينطوى عليها تسريع الحكم، إزالة الإشكال عن ظاهر النص لمن لم يتعرف سبب النزول، كشف أسرار البلاغة فى القرأن العظيم.
“Asbabun Nuzul membantu dalam memahami arti dan maksud sebuah ayat, Dapat mengetahui hikmah yang meliputi disyari’atkannya hokum, Menghilangkan kesulitan (kebingungan) pada sebuah nash, mengungkap rahasia keindahan Retorika Al-Qur’an”
Kholid Ibn Sulaiman Al-Mazaini berpendapaat dalam kitabnya Al-Mukharar fi Asbab Nuzulil Qur’an yaitu :[12]
أن معرفة سبب النزول يعين فهم الاية.أن العلم بسبب النزول يرفع الإشكال.أن معرفة سبب النزول الحكمة الداعية إلى تشريع الحكم.أن يخصص الحكم بالسبب الذى نزل من أجله.بيان أخصية السبب بالحكم. معرفة التاريخ.
“Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul membantu dalam memahami ayat, ilmu asbab nuzul menghilangkan Kesulitan (kebingungan), Dapat mengetahui hikmah disyari’atkannya hukum, Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an (bagi ulama yang berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang bersifat khusus dan bukan lafaz yang bersifat umum), Penjelasan pengkhususan suatu hokum, Pengetahuan tentang sejarah.
Dari pendapat diatas bahwasanya asbabun nuzul sangat penting dalam pengetahuan tentang Sabab Al-Nuzul membawa kepada pengetahuan tentang rahasia dan tujuan Allah secara khusus mensyari’atkan Agama-Nya melalui Al-Qur’an, pengetahuan tentang asbab al-nuzul membantu dalam memahami ayat dan menghindarkan kesulitannya, pengetahuan tentang Sabab Al-Nuzul dapat menolak dugaan adanya pembatasan dalam ayat yang menurut lahirnya mengandung pembatasan, pengetahuan tentang Sabab Al-Nuzul dapat mengkhususkan hukum pada sebab menurut ulama yang memandang bahwa yang mesti diperhatikan adalah kekhususan sebab dan bukan keumuman lafal, dengan mempelajari Sabab Al-Nuzul diketahui pula sebab turunnya ayat tidak pernah keluar dari hukum yang terkandung dalam ayat tersebut sekalipun datang yang mengkhususkannya, dengan Sabab Al-Nuzul, diketahui orang yang ayat tertentu turun padanya secara tepat sehingga tidak terjadi kesamaran, pengetahuan tentang Sabab Al-Nuzul akan mempermudah orang menghapal ayat-ayat Al-Qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang mendengarnya jika ia mengetahui sebab turunnyayang mana semuanya itu penting dalam mentafsirkan Al-Qur’an.
D.    Cara Mengetahui Asbabun Nuzul
Menurut Az-Zarqoni beliau mengatakan bahwa :
لا طريقة لمعرفة أسباب النزول إلا النقل الصحيح، و من هنا لا يحل القول فى أسباب النزول إلا بالرواية و السماع ممن شاهدوا التنزيل ووقفوا على الأسباب و بحثوا عن علمها.[13]
“Tidak ada acara lain untuk mengetahui suatu sebab turunya (Al-Qur’an) kecuali dengan Menyebutkan yang benar, maka dari itu tidak diperbolehkan suatu perkataan/pernyataan untuk menjadi sebab turunya (Al-Qur’an) kecuali dengan riwayat dan mendengar dari orang-orang yang menyaksikan proses turunya ayat tersebut dan  mengetahui sebab dan mencari ilmunya”
Menurut Abdul Satar Jabar Ghayub Al-Mahmudybeliau mengemukakan bahwa :
إن الطريقة إلى معرفة أسباب النزول هو النقل الصحيح عن الصحابة رضي الله عنهم الذين عاصروا نزول القرأن و وقفوا على أسباب نزوله.[14]
“Sesungguhnya cara untuk mengetahui Asbabun Nuzul adalah dengan menyatakan suatu kebenaran dari sahabat-sahabat yang hidup pada masa Al-Qur’an itu diturunkan dan mengetahui sebab penurunannya.
Ada sebuah Hadits dari Ibn Abbas r.a beliau berkata :[15]
أخبرنا أبو إبراهيم إسماعيل بن إبراهيم الوعظ قال : أخبرنا أبو الحسين محمد بن أحمد بن حامد العطار حدثنا أحمد بن الحسين بن عبد الجبار حدثنا ليث بن حماد حدثنا أبو عوانة، عن عبد الأعلى عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس قال : قال رسولو الله صلى الله عليه وسلم " اتقوا الحديث عنى إلاّ ما علمتم، فإنه من كذب علىّ متعمدا فليتبوأ مقعده من النار. و من كذب على القرأن من غير علم فليتبوأ مقعده من النار.
“Janganlah kalian mengatakan suatu hadits dariku, kecuali apa yang aku ajarkan pada kalian, karena barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka bersiap-siaplah mengambil tempatnya di neraka, dan barang siapa yang berbicara tentang Al-Qur’an berdasarakan Ra’yu nya (Akal pikiranya), maka bersiap-siaplah mengambiltempatnya dineraka. (HR. Ibnu Abbas. Hadits Hasan Imam Abu A’la)
       Asbabun nuzul tidak boleh hanya dengan melalui akal atau pendapat, tetapi mestilah dengan riwayat yang sahih dan pendengaran, juga hendaklah mereka itu menyaksikan sendiri ayat itu diturunkan atau pun mereka yang mengetahui sebab-sebabnya dan mengkaji tentangnya terdiri daripada sahabat, tabi’in dan mereka yang bersungguh-sungguh mengkaji ilmu ini yang terdiri daripada kalangan ulama yang dipercayai.Untuk itu, ulama Salaf dan ahli Tafsir begitu teliti dan sangat berhati-hati dalam perkara ini, di mana ulama mengetahui Asbab Nuzul dan perkara yang berkaitan dengan sebab penurunan al-Quran dengan melalui riwayat para Tabi’in dan para sahabat atau juga melalui riwayat yang secara sah berasal daripada Nabi, tetapi tidak semua riwayat yang disandarkan kepadanya dapat dipegang. Riwayat yang dapat dipegang adalah riwayat yang memenuhi syarat-syarat tertentu sebagaimana ditetapkan oleh para ahli hadis, Secara khusus dari riwayat asbabun nuzul adalah riwayat dari orang yang terlibat dan mengalami peristiwa yang diriwayatkannya (yaitu pada saat wahyu diturunkan). Riwayat yang berasal dari para tabi’in yang tidak merujuk kepada Rasulullah SAW dan sahabatnya dianggap lemah (Dhaif); Sebab itu, seseorang tidak dapat begitu saja menerima pendapat seorang penulis atau orang seperti itu bahwa suatu diturunkan dalam keadaan tertentu. Karena itu, kita harus mempunyai pengetahuan tentang siapa yang meriwayatkan peristiwa tersebut, dan apakah ia memang sungguh-sungguh menyaksikan, dan kemudian siapa yang menyampaikannya kepada kita.
E.     Aplikasi Asbabun Nuzul dalam Pentafsiran Ayat Pendidikan

a. QS. Ali-Imron ayat 79
   
“ Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali-Imron : 79)
Asbabun Nuzul
            Asbabun Nuzul ayat ini adalah, Ibnu Ishaq dan al-baihaqi meriwayatkan Ibnu Abbas, dia berkata, “abu Rafi’ al-Qarzhi berkata, ‘ketika pendeta yahudi dan Nasrani dari Najran berkumpul di tempat Rasulullah dan beliau mengajak mereka untuk masuk Islam, mereka berkata, ‘apakah engkau ingin agar kami menyembahmu sebagaimana orang-orang Nasrani  menyembah Isa? Maka Rasulullah menjawab, Na’uudzu billah (Kami berlindung kepada Allah dari Hal itu). Maka Allah menurunkan ayat ini.[16]
            Abdurrazzaq dalam tafsirnya meriwayatkan dari Hasan al-Bashri, dia berkata, “sampai kepada saya bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah. “wahai Rasulullah, kami akan mengucapkan salam kepadamu sebagaimana kami mengucapkan salam kepada sesama kami. Lalu apakah kami perlu bersujud kepadamu? Rasulullah menjawab: Tidak, akan tetapi muliakanlah Nabi kalian dan ketahuilah hak keluarganya. Karena Sesungguhnya tidak sepantasnya seseorang sujud kepada selain Allah. Lalu Allah menurunkan Ayat ini.[17]

Penafsiran Ayat
            Ayat ini menjelaskan bahwa tidak patut bagi seseorang yang telah diberinya oleh Allah Al-Kitab, hikmah dan kenabian lalu meminta-minta orang menyembahnya tanpa Allah atau menyembahnya bersama-sama dengan Allah. Jika hal yang demikian tidak patut bagi seorang nabi atau rasul, maka lebih-lebih bagi seorang lain yang bukan nabi atau rasul. Karena itu berkata Hasan Al-Bashri: “tidak patut bagi seorang Mukmin meminta dari orang lain untuk menyembahnya.” Janganlah seperti ahli Kitab yang menyembah para pendeta-pendetanya.
            Celaan Allah terhadap para rahib dan pendeta yang disembah oleh pengikut-pengikutnya itu tidak menjangkau para rasul dan para ulama yang didikuti dan diturut oleh pengikut-pengikutnya karena Nabi dan Rasul ini hanya memerintahkan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menyampaikan kepada umatnya apa yang dirisalahkan dan diwahyukan kepada mereka. Dan melarang apa yang dilarang oleh Allah. Karena para Rasul itu adalah utusan Allah kepada hamba-hamba-Nya, menyampaikan apa yang diamanatkan kepada mereka tugas yang telah dilaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
            Allah memberitahu para rasul itu untuk mengajak umat manusia agar menjadi ahli ibadah dan bertaqwa (rabbaniyin) sesuai dengan apa yang mereka pelajari dan ketahui dari Al-Qur’an dan kitab-kitab Allah. Sekali-kali rasul itu tidak pernah mengajak umat manusia untuk menjadikan malaikat dan nabi sebagai Tuhan yang disembah, bahkan para rasul itu tidak menyuruh orang menyembah selain Allah, apakah itu seorang nabi atau seorang malaikat. Para Rasul itu hanya menyembah kepada Alaah dan tidak menyekutukannya.[18]

Nilai Pendidikan
            Sesuai dengan ayat ini bahwa dalam belajar apabila kita mempunyai ilmu yang tinggi dan berpengetahuan luas maka janganlah kita sesekali untuk sombong kepada orang lain, ingin dipuji atau ingin disanjung oleh orang lain, akan tetapi kita hendaknya selalu bersikap rendah hati dan tidak sombong kepada orang lain. Dan Ilmu yang telah kita pelajari itu hendaknya kita amalkan dalam bentuk ibadah dan bertaqwa kepada Allah SWT.

b. QS. Ar-Rahman ayat 1-4
  
(tuhan) yang Maha pemurah, yang telah mengajarkan Al Quran, Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara.” (QS. Ar-Rahman : 1-4).

Asbabun Nuzul
Ayat ini turun setelah terjadi pelecehan orang kafir setelah ada perinta untuk bersujud kepada Allah yang terdapat dalam surat al-Furqon ayat 60 :

“ Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang", mereka menjawab:"Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah Kami akan sujud kepada Tuhan yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?", dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).” (QS. Al-Furqan : 60).
Ayat ini merupakan bantahan bagi kaum kafir yang mengungkapkan mereka tidak mengenal seseorang yang bernama Rahman kecuali Rahman dari yamamah. Maka ayat ini menegaskan bahwa Arrahman bukanlah dia tetapi Allah yang maha Rahman yang telah mengajarkan Al-Qur’an dan telah menciptakan manusia.[19]
Tafsir Ar – Rahman Ayat 1

Dalam konteks ayat ini dapat ditambahkan bahwa kaum musyrikin mekah tidak mengenal siapa ar-Rahman sebagaimana pengakuan mereka yang direkam oleh Qs. Al-Furqon ayat 60. Dimulainya surat ini dengan kata tersebut bertujuan juga mengundang rasa ingin tahu mereka dengan harapan akan tergugah untuk mengakuan nikmat-nikmat dan beriman kepada-Nya.Di sisi lain, penggunaan kata rerbut di sini sambilmenguraikan nikmat-nikmat-Nya, merupakan juga bantahan terhadap merka yang enggan mengakui-Nya itu.[20]
Arti Ar-Rahman adalah amat luas. Kalimat dalam pengambilannya ialah Rahmat. Yang berarti kasih, sayang, cinta pemurah. Dia meliputi kepada segala segi dari kehidupan manusia dan terbentang di dalam segala makhluk yang wujud dalam dunia ini. Didalam ayat-ayat al-Qur’an kita akan bertemu dengan ayat-ayat yang menyebutkan Ragmat Allah, tidak kurang daripada 60 kali, Rahim sampai 100 kali.
Maka apabila kita perhatikan al-Qur’an dengan seksama,kita akan bertemu hampir pada tiap-tiap halaman, kalimat-kalimat Rahman, Rahim, Rahmat, Rahmati, Rahimi, Ruhamaak, Arhaman, al-Arhaam, yang semuanya itu mengandung arti akan kasih, sayang, pemurah, kesetiaan dan lain-lain. Artinya pada sifat-sifat yang lain, misalnya sifat santun, sifat Afuwwun (pemaaf), sifat Ghoffur (pengampun) dan lain-lain, didalamnya kalu kita renungkan, akan bertemu kasih-sayang tuhan, kemurahan tuhan, dermawan Tuhan.[21]

Tafsir Ar- Rahman Ayat 2

عَلَّمَ الْقُرْءَانَ  (Yang telah mengajarkan al-Qur’an). Dalam kata عَلَّمَ  (Telah mengajarakan) disini maksud telah mengajarkan diartikan kepada siapa yang dikehendakkinya.[22]
            sedangkan kata ‘allama (Telah mengajarakan) memerlukan dua objek. Banyak ulama yang menyebutkan objeknya adalah kata (الإنسان) manusia yang diisyaratkan oleh ayat berikutnya. Thabathabai menambahkan bahwa jin juga trmasuk, kerena surat tersebut ditunjukan kepada manusia dan jin. Menurut Penulis, bisa saja objeknya mencakup selain kedua jenis tersebut. Melaikt jibrilyang menerima dari Allah wahyu-wahyu al-Qur’an untuk disampaikan kepada Rasul Saw., termasuk yang diajarnya, karena bagaimana mungkin malaikat itu dapat menyampaikan bahkan mengajarkan firman Allah itu kepad Nabi Muhhammad Saw. Kalau malaikat itu sendiri tidak memperoleh pengajaran Allah SWT, disisilain, tidak disebutkannya objek kedua dari kata tersebut, mengisyaratkan bahwa ia bersifat umum dan mencakup segala sesuatu yang dapatr dijangkau oleh pengajaran-Nya.[23]
            Al-Qur’an adalah firman-firman Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw. Dengan lafal dan maknanya yang beribadah siapa yang membacanya, dan menjadi bukti kebenaran mukjizat Nabi Muhammad saw.
            Dan inilah salah satu dari Rahman, atau kasih sayang dari Allah kepad manusia,yaitu diajarkan kepada manusia itu al-Qur’an

Tafsir Ayat 3 Surat Ar-Rahman
خَلَقَ الْإنْسَن  (yang Menciptakan Manusia). Kata (الْإنْسَنا) pada ayat ini mencakup semua jenis manusia sejak adam hingga akhri zaman.[24]
Penciptaan manusia pun satu diantara tanda Rahman Tuhan kepada alam ini. Sebab dantara bagitu banyak makluk Ilahi didalam alam, mausia satu-satunya makhluk paling mulia. Kemuliaan itu lah salah satu bentuk rahmat ilahi :   
dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.[25]

Tafsir ar-Rahman ayat 4
عَلَّمَهُ الْبَيَانَ  (mengajarnya berbicara), Al-Hasam mengatakan, “yang dimaksud dengan dengan al-bayan ialah pengujaran, yaitu membaca al-Qur’an. Pembacaan itu dengan memudahkan pengujaran kepada hamba-hambaNya dan memudahkan dalam mengartikulasikan huruf-huruf dari daerah-daerah artikulator, yaitu tenggorakan, lidah, dan bibir sesuai dengan keragaman artikulasi dan jenis huruf.[26]
Sedangkan dalam Tafsir al-Misbah kata al-bayan pada mulanya berarti jelas. Kata tersebut di sini dipahami oleh Thabathaba’i dalam arti “potensi mengungkap” yakni kalam/ucapan yang dengannya dapat terungkap apa yang terdapat dalam benak. Lebih lanjut ulama ini menyatkan bahwa kalam bukan skedar mewujudkan suara dengan menggunakan rongga dada, tali suara dan kerongkongan. Bukan juga hanya dalam keanekaragaman suara yang keluar dari kerongkongan karena perbedaan makharij al-hrurf dari mulut, tetapi juga bahwa Allah yang maha Esa menjadikan manusia dengan mengilhaminya mampu memahami makna suara yang keluar itu, yang dengannya dia dapat menghadirkan sesuatu dari alam nyata ini, berapapun besar atau kecilnya yang wujud yang berkaitan dengan masa laumpau atau datang, dan menghadirkan dalam benaknya hal-hal yang abstrak yang dapat dijangkau oleh manusia dengan pikirannya walau tidak dijangkau dengan indra.[27]

Nilai Pendidikan
Kandungan Hukum dalam Surat ar-Rahman ayat 1-4 , dari ayat pertam ( الرحمن) ar-Rahman, yang memiliki arti pengasih kepada makhluknya tanpa keterkecuali baik kepada yang beriman maupun yang mengingkarinya, disini jika dikaitkan dengan pendidikan adalah kita sebagai pendidik harus memilik sifat yang pengasih tanpa pengecualian baik kepada yang pintar, pendiam, dan yang nakal. Kita harus menyayanginya tanpa pandang bulu.
Mengajarkan Qur’an. Ini menunjukan bahwa seorangguru harus terlebih dahulu mempersiapkan Qur’an, dalam konteks ini qur’an diterjemahkan dengan materi pelajaran, sebelum guru berada dihadapan siswa. guru harus terlebih dahulu mempersiapkan dalam artian menguasai, memahami materi yang akan disampaikankepada siswa. sehingga seorang guru dapat maksimal mentransfer ilmunya kepadasiswa.
Khalaqal Insan Menciptakan Manusia. Menilik tujuan utama dari pendidikan adalah mencetak manusia yang sempurna, yang berpengetahuan, berakhlak dan beradab. tentu tidak ada manusia yang sempurna, namun berusaha menjadi manusia yang sempuranaadalah suatu kewajiban. Seorang guru apapun materi yang ia ajarkan hendaknyamengarahkan siswanya menjadi manusia yang berpengetahuan, beradab dan bermartabat yang berujung kepada ketaqwaan kepada Yang Maha Esa. bukan hanyamengarahkan pada aspek prestasi saja.
Allamahul Bayan Mengajarkan Dengan Jelas. Ayat ini kaitannya dengan proses pendidikan adalah seorang guru apapun pelajaran yang disampaikan, sampaikanlah dengan sejelas-jelasnya, sampai pada tahap seorang siswa benar-benar faham. jangan sampai seorang siswa belum betul-betul faham pada materi yang diajarkan sudah pindah kemateriyang lain. banyak kasus di negeri ini, demi mengejar target pencapaiankurikulum,prinsip memberi kefahaman diabaikan, efeknya kita tahu semua.

  

BAB III
SUMPULAN dan PENUTUP

A.    Simpulan
            Asbab an-Nuzul adalah hal khusus atau sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan turunnya ayat al-Qur’an yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi jugaAsbabun Nuzul adalah sesuatu yang karenanya satu atau beberapa ayat turun membicarakan atau menjelaskan hukumnya pada hari terjadinya, ia merupakan peristiwa yang terjadi pada masa nabi atau pertanyaan yang diajukan kepada beliau, lalu turun satu atau beberapa ayat dari Allah SWT untuk menjelaskan sesuatu yang tekait dengan peristiwa itu atau menjawab pertanyaan tersebut, baik peristiwa itu merupakan pertikaian yang berkembang, atau merupakan suatu kesalahan besar, harapan, keinginan yang kuat, peristiwa yang sedang terjadi atau bisa juga peristiwa yang akan terjadi.

B.     Penutup
            Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu dan senantiasa diberikan kemudahan oleh allah swt. Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan untuk itu kami senantiasa meminta saran dan kritik yang sifatnya membangun  kepada semua pihak guna kesempurnaan makalah ini. Dan semoga makalah ini bermanfaat khususnya kepada penulis dan umumnya bagi para pembaca.


DAFTAR PUSTAKA
‘Imaduddin Muhammad Ar-Rasyid, Asbabun Nuzul Wa Atsaruha Fi Bayani An-Nusus,     Damaskus : Dar Asyhab, 1999
A. Mudjab Mahali, Asbabun Nuzul: Studi Pendalaman Al-Qur’an Surah Al-Baqarah dan An-       Nas, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002.
Abdul Aziz Aita Malik, Ulumul Qur’an Inda Imam As-Suhaily, 2006
Abdul Satar Jabar Ghayub Al-Mahmudy, Ilmu Asbabun Nuzulil Qur’an, Baghdad : Diwan Waqf             Sini, 2014.
Abu Anwar, Ulumul Qur’an, Pekan Baru : Amzah, 2009.
Ahmad Izzan, Ulumul Qur’an  (Telaah Tekstual  dan Kontekstual Al-Qur’an), Bandung: Tafakur              HUMANIORA, 2009.
Ahmad mustofa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, Semarang : PT. Karya Toha Putra Semarang,1974. M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Jakarta : Lentera hati, 2002.
Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Terjemah Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir,     Jakarta: Gema Insan, 2006
Fahdi Ibnu abdi Rahman bin Sulaiman Ar-Rummi, Dirasat fi Ulumil Al-Qur’an Al-Karim,             Riyadh : Kamil,2005
Hamka, Tafsir Al Azhar Juz XXVII, Jakarta : Pustaka Panjimas Jakarta.
Imam jalaluddin Al-Mahalli dan Imam jalaluddin As-Syuti, Terjemah Tafsir Jalalain jilid 2,          Sinar Baru Algensindo
Imam Jalaludin  Abdurrahman As-Shuyuty, Al-Itqan Fi Ulumil Qur’an, Saudi Arabia : Dar Al-     Hujrah, 1992.
Jalaluddin As-Suyuthi, Asbabun Nuzul: sebab turunnya ayat Al-Qur’an Terjemah., (Jakarta:         Gema Insani, 2008).
Kholid Ibn Sulaiman Al-Mazaini, Al-Mukharar fi Asbab Nuzulil Qur’an min Khilalil Kutub At-      Tis’ah, Saudi Arabia : Dar Ibn Jauzi, 1427 H.
Muhammad Abdul Adzim Az-Zarqoni, Mahil Al-Urfani fi Ulumil Qur’an, Bairut : Dar Kitab        Arabi, 1995.
Muhammad Ahmad Ma’bad, Nufakhat Min Ulumil Qur’an, Madinah : Maktabah Toyibah, 1986
Muhammad Ali Ash-Shabuni, At-Tibyan fi Ulumil Qur’an, Pakistan: Maktabah Al-Busro,1390.
Nurddin Itr, Ulumul Qur’an Al-Karim, Damaskus : Mathi’ah As-Shabk, 1993.
Rosihon Anwar, Ulum Al-Qur’an, Bandung: Pustaka Setia, 2010.
Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid II, Surabaya: PT        Bina Ilmu, 1990


[1] . Abu Anwar, Ulumul Qur’an, (Pekan Baru : Amzah, 2009), h. 29
[2] . Muhammad Abdul Adzim Az-Zarqoni, Mahil Al-Urfani fi Ulumil Qur’an, ( Bairut : Dar Kitab Arabi, 1995). h.89
[3] . Muhammad Ali Ash-Shabuni, At-Tibyan fi Ulumil Qur’an, (Pakistan: Maktabah Al-Busro, 1390), h. 36
[4] . Fahdi Ibnu abdi Rahman bin Sulaiman Ar-Rummi, Dirasat fi Ulumil Al-Qur’an Al-Karim, (Riyadh : Kamil,2005), h. 149
[5] . Abdul Aziz Aita Malik, Ulumul Qur’an Inda Imam As-Suhaily, 2006. H. 27
[6] . Ahmad Izzan, Ulumul Qur’an  (Telaah Tekstual  dan Kontekstual Al-Qur’an), (Bandung: Tafakur  HUMANIORA, 2009), h. 181-182
[7] . Fahdi Ibnu abdi Rahman bin Sulaiman Ar-Rummi, Dirasat fi Ulumil Al-Qur’an Al-Karim, h. 148
[8]. Muhammad Ahmad Ma’bad, Nufakhat Min Ulumil Qur’an, (Madinah : Maktabah Toyibah, 1986). h. 61
[9] . Rosihon Anwar, Ulum Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka Setia, 2010). h. 60-68
[10] . Imam Jalaludin  Abdurrahman As-Shuyuty, Al-Itqan Fi Ulumil Qur’an,(Saudi Arabia : Dar Al-Hujrah, 1992). h. 134
[11] . Nurddin Itr,Ulumul Qur’an Al-Karim, (Damaskus : Mathi’ah As-Shabk, 1993). h. 47-48
[12] . Kholid Ibn Sulaiman Al-Mazaini, Al-Mukharar fi Asbab Nuzulil Qur’an min Khilalil Kutub At-Tis’ah,(Saudi Arabia : Dar Ibn Jauzi, 1427 H), h. 26-35
[13] . Muhammad Abdul Adzim Az-Zarqoni, Mahil Al-Urfani fi Ulumil Qur’an, h. 95
[14] . Abdul Satar Jabar Ghayub Al-Mahmudy, Ilmu Asbabun Nuzulil Qur’an, (Baghdad : Diwan Waqf Sini, 2014). h. 47
[15]. ‘Imaduddin Muhammad Ar-Rasyid, Asbabun Nuzul Wa Atsaruha Fi Bayani An-Nusus, (Damaskus : Dar Asyhab, 1999). h. 34
[16] . A. Mudjab Mahali, Asbabun Nuzul: Studi Pendalaman Al-Qur’an Surah Al-Baqarah dan An-Nas, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002). H. 159.
[17] . Jalaluddin As-Suyuthi, Asbabun Nuzul: sebab turunnya ayat Al-Qur’an Terjemah., (Jakarta: Gema Insani, 2008). H. 124-125.
[18] . Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid II, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1990). H. 114-115.
[19] . Ahmad mustofa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, Semarang : PT. Karya Toha Putra Semarang,1974. hlm. 185
[20] . M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Jakarta : Lentera hati, 2002), hlm. 493
[21] . Hamka, Tafsir Al Azhar Juz XXVII, (Jakarta : Pustaka Panjimas Jakarta), hlm. 179-180
[22] . Imam jalaluddin Al-Mahalli dan Imam jalaluddin As-Syuti, Terjemah Tafsir Jalalain jilid 2, (Sinar Baru Algensindo) hlm. 984
[23] . Imam jalaluddin Al-Mahalli dan Imam jalaluddin As-Syuti, Terjemah Tafsir Jalalain jilid 2, hlm. 494
[24] . Imam jalaluddin Al-Mahalli dan Imam jalaluddin As-Syuti, Terjemah Tafsir Jalalain jilid 2, hlm.  495
[25] . Hamka, Tafsir Al Azhar Juz XXVII, hlm. 181
[26] . Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Terjemah Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta, Gema Insan, 2006). Hlm. 540
[27] . M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah.  hlm.491

Tidak ada komentar:

Posting Komentar