Sabtu, 14 Januari 2017

Filsafat Ilmu

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Di zaman modern ini, masalah etika di Indonesia mulai mengalami penurunan. Sebagian besar masyarakat mulai mengabaikan persoalan etikanya. Terutama etika dalam pergaulan. Hal ini terjadi di akibatkan masuknya ajaran-ajaran barat yang akhirnya mengikis ada budaya masyarakat Indonesia secara perlahan-perlahan.
Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud. Nilai yang terkandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah, nasihat, wejangan peraturan, perintah dan semacamnya. Pada dasarnya memberi kita orientasi bagaimana dan kemana kita harus melangkah dalam hidup ini. Maka dari itu penulis akan menuturkan Etika komukasi secara Ontologi, Epistimologi dan aksiologinya.

B.     Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Etika dan Komunikasi ?
2. Apa Urgensi, Manfaat Etika dan komunikasi ?
3. Apa Etika dalam komunikasi ?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk Mengetahui Pengertian Etika dan Komunikasi.
2.      Untuk Mengetahui Urgensi, Manfaat Etika dan Komunikasi.
3.      Untuk Mengetahui Etika dalam komunikasi.




BAB II
PEMBAHASAN


A.    Hakikat dan Pengertian Etika
1.      Pengertian Etika
Istilah etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata etika yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu taetha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu, tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti taetha yaitu adat kebiasaan. Arti dari bentuk inilah yang melatar belakangi terbentuknya istilah etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologi (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Juga dalam pendapat lain Istilah etika berasal dari kata ethikus (latin) dan dalam bahasa Yunani disebut ethicos yang berarti kebiasaan norma-norma, nilai-nilai, kaidah kaidah dan ukuran-ukuran baik dan buruk tingkah laku manusia. Jadi, etika komunikasi adalah norma, nilai, atau ukuran tingkah laku baik dalam kegiatan komunikasi di suatu masyarakat. Beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian etika antara lain sebagai berikut :
Pendapat Drs. D.P. Simorangkir Etika atau etik adalah pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai yang baik. Sedangkan pendapat Drs. Sidi Cjajalba adalah Etika merupakan teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. Menurut Dr. A. Voemans, Etika dan etik terdapat hubungan yang erat dengan masalah pendidikan.
Menurut K. Bertens, etika secara umumnya sebagai berikut:[1]
  1. Etika adalah niat, apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak sesuai pertimbangan niat baik atau buruk sebagai akibatnya.
  2. Etika adalah nurani (bathiniah), bagaimana harus bersikap etis dan baik yang sesungguhnya timbul dari kesadaran dirinya.
  3. Etika bersifat absolut, artinya tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau perbuatan baik mendapat pujian dan yang salah harus mendapat sanksi.
  4. Etika berlakunya, tidak tergantung pada ada atau tidaknya orang lain yang hadir.
Etika merupakan suatu ilmu yang membahas perbuatan baik dan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Dan etika profesi terdapat suatu keadaan yang kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyrakat yang memerlukan.[2]
Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat internasional diperlukan suatu sistem yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler, dan lain-lain.
Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terkindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan yang tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita. Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata ethos yang berarti norma-norma, nilai-nilai, Sikap santun yaitu baik, hormat, tersenyum, dan taat kepada suatu peraturan. Sikap sopan santun yang benar ialah lebih menonjolkan pribadi yang baik dan menghormati siapa saja. Dari tutur bicara pun orang bisa melihat kesopanan kita.[3] kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli:
·        Ki Hajar Dewantoro
Ilmu yang mempelajari tentang segala bentuk kebaikan dan keburukan di dalam manusia semuany,teristimewea yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan sampai mengenai tujuan yang dapat merupakan perbuatan.[4]
·        H. Devos
Etika sebagai ilmu pengetahuan mengenai kesusilaan, ini berarti bahwa etika membicarakan kesusilaan secara ilmiah.[5]
·        M. Amin Abdullah
Ilmu yang mempelajari tentang baik dan buruk.[6]
·        Frans Magnis  Suseno
Etika sebagi usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup apabila ia menjadi baik. Jadi, etika ialah suatu ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang buruk dengan memperlihatkan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat dicerna akal pikiran.[7]




Dari berbagai pembahasan definisi tentang etika tersebut dapat diklasifikasikan yaitu sebagai berikut: Etika dipandang sebagai cabang filsafat yang khusus membicarakan tentang nilai baik dan buruk dari perilaku manusia. Etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang membicarakan baik buruknya perilaku manusia dalam kehidupan bersama. Definisi tersebut tidak melihat kenyataan bahwa ada keragaman norma, karena adanya ketidaksamaan waktu dan tempat, akhirnya etika menjadi ilmu yang deskriptif dan lebih bersifat sosiologik.  Etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat normatif, dan evaluatif yang hanya memberikan nilai baik buruknya terhadap perilaku manusia. Dalam hal ini tidak perlu menunjukkan adanya fakta, cukup informasi, menganjurkan dan merefleksikan. Definisi etika ini lebih bersifat informatif, direktif dan reflektif.

2.      Penggolongan Etika
Dalam menelaah ukuran baik dan buruk suatu tingkah laku yang ada dalam masyarakat kita bisa melakukan penggolongan etika, yakni terdapat dua macam etika yaitu:[8]
a.    Etika Deskriptif
Merupakan  usaha  menilai  tindakan  atau  perilaku  berdasarkan  pada ketentuan atau norma baik buruk yang tumbuh dalam kehidupan bersama di dalam masyarakat. Kerangka etika ini pada hakikatnya menempatkan kebiasaan yang sudah ada di dalam masyarakat sebagai acuan etis. Suatu tindakan seseorang disebut etis atau tidak, tergantung pada kesesuaiannya dengan yang dilakukan kebanyakan orang.
b.    Etika Normatif
Etika yang berusaha menelaah dan memberikan penilaian suatu tindakan etis atau tidak, tergantung dengan kesesuaiannya terhadap norma-norma yang sudah dilakukan dalam suatu masyarakat. Norma rujukan yang digunakan untuk menilai tindakan wujudnya bisa berupa tata tertib, dan juga kode etik profesi.

3.      Urgensi Etika
Etika mengajarkan dan menuntun manusia kepada tingkah laku yang baik dan menjauhkan diri dari tingkah laku buruk sesuai dengan ajaran islam. Etika juga mengatur, mengarahkan fitrah manusia dan meluruskan perbuatan manusia menuju keridhoan Nya, Menyelamatkan diri manusia dari fikiran-fikiran dan perbuatan keliru dan lagi menyesatkan.[9] Etika mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia diantaranya kemajuan rohani, penutup kebaikan,dan kesempurnaan iman.

4.      Ruang Lingkup Etika
Ruang lingkup etika yaitu cara menetapkan seberapa luas materi etika yang dibahas,sumber-sumbernya ,tokoh-tokohnya,tema-temanya,dan cakupannya yang mendalam.
            Menentukan ruang lingkup pembahasan etika,setap ahli belum ada kata sepakatdan keseragaman, karena masing-masing memberikan materi yang berbeda dan bervariasi.Ini terbukti ,tiap-tiap buku yang mereka susun ternyata berbeda beda,baik mengenain isi, sumber-sumbernya,tokoh-tokohnya,tema-temanya,materi maupun pembahasannya.
            Etika menyelidiki segala perbuatan manusia menetapkan hukum baik atau buruk. Akan tetapi,bukanlah semua perbuatan itu dapat diberi hukum. Perbuatan manusia ada yang timbul bukan karena kehendak,seperti bernapas,detak jantung,dan memicingkan mata tiba-tiba waktu berpindah dari gelap ke cahaya.Hal tersebut bukan persoalan etika dan tidak dapat memberi hukum pokok persoalan etika.
            Ruang lingkup etika tidak memberikan arahan yang khusus atau pedoman yang tegas terhadap pokok-pokok bahasannya,tetapi secara umum ruang lingkup etika adalah sebagi berikut ;
1.      Etika menyelidiki sejarah dalam berbagai aliran,lama dan baru tentang tingkah laku manusia.
2.      Etika membahas tentang cara-cara menghukum, menilai baik dan buruknya suatu pekerjaan.
3.      Etika menyelidiki faktor-faktor penting yang mencetak, mempengaruhi dan mendorong lahirnya tingkah laku manusia, meliputi faktor manusia itu sendiri,, fitrahnya (nalurinya) , adat kebiasaannya,lingkungannya, kehendak,cita-citanya,suara hatinya, motif yang mendorongnya berbuat dan masalah pendidikan etika.
4.      Etika menerangkan mana yang baik dan mana pula yang buruk, menurut ajaran islam, etika yang baik harus bersumber pada Al-Qur’an dan Hadis Nabi. Ini tidak dapat ditawar-tawar lagi,karena jiuka etika didasarkan pada pemikiran manusia (filsafat) hasilnya sebagian selalu bertentangan dengan fitrah manusia.
5.      Etika mengajarkan cara-cara yang perlu ditempuh, juga untuk meningkatkan budi pekerti kejenjang kemuliaan,misalnya dengan cara melatih diri untuk mencapai perbaikan bagi kesempurnaan pribadi.Latihan adalah cara yang sangat tepat untuk membiasakan manusia beretika luhur bukan hanya teori saja tetapi benar-benar mengakar dalam hati,sanubari setiap insan
6.      Etika menegaskan arti dan tujuan hidup yang sebenarnya,sehingga dapatlah manusia terangsang secar aktif mengerjakan kebaikan dan menjauhkan segala kelakuan yang buruk dan tercela.

5.      Manfaat Etika
Adapun Manfaat Etika sebagai berikut :[10]
1. Dapat membantu suatu pendirian dalam beragam pandangan dan moral.
2. Dapat membantu membedakan mana yang tidak boleh dirubah dan mana yang boleh dirubah.
3. Dapat menyelesaikan masalah-maslah moralitas maupaun sosial lainnya yang membingunkan masyarakat dengan pemikiran yang sistematis dan kritis.
4. Berusaha menyelidiki suatu masalah sampai ke akar-akarnya bukan hanya sekedar ingin tahu tanpa memperdulikan.

B.     Hakikat dan Pengertian Komunikasi
1.      Pengertian Komunikasi
Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”),secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis. Dalam kata communis ini memiliki makna „berbagi‟ atau „menjadi milik bersama‟ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward mengenai komunikasi manusia yaitu :[11]
Human communication is the process through which individuals –in relationships, group, organizations and societies—respond to and create messages to adapt to the environment and one another. Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain.
Menurut Dale Yoder dalam bukunya yang berjudul “Handbook of Personal Management and Labour Relations” mengatakan bahwa secara etimologis kata “communications” berasal dari akar kata “common” yang artinya bersama. Kata bersama tersebut dalam kajian komunikasi diartikan sebagai proses pertukaran ide atau gagasan antara komunikator dan komunikan, dimana pihak-pihak tersebut satu sama lain saling mengerti dan memahami terhadap apa yang mereka bicarakan baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Dengan demikian, istilah “communicate”dapat diartikan sebagai pembagian ide atau gagasan secara bersama-sama.[12]
Menurut Weaver, komunikasi adalah seluruh prosedur melalui mana pikiran seseorang dapat mempengaruhi pikiran orang lainnya.[13] Adapun beberapa pendapat Pengertian Komunikasi Menurut Para Ahli tentang pengertian komunikasi antara lain :
Shannon dan Weaver, komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu samalainya,sengaja atau tidak di sengaja.Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka,lukisan,seni dan teknologi.[14] Sedangkan menurut William J Seiller memberikan definisi komunikasi yang lebih bersifat universal. Ia mengatakan komunikasi adalah proses dengan mana simbol verbal dan non verbal dikirimkan, diterima, dan diberi arti.[15] Adapun komponen dalam suatu komunikasi yaitu meliputi :
Jika salah satu elemen komunikasi tidak ada maka komunikasi tidak akan berjalan. Ada komponen-komponen dalam komunikasi antara lain :
Pengirim(Sender-Sumber) adalah seseorang yang mempunyai kebutuhan atau informasi serta mempunyai kepentinga mengkomunikasikan kepada orang lain.
Pengkodean (Encoding) adalah pengirim mengkodean informasi yang akan disampaikan ke dalam symbol atau isyarat.
Pesan (Massage), pesan dapat dalam segala bentuk biasanya dapat dirasakan atau dimengerti satu atau lebih dari indra penerima.
Saluran (Chanel) adalah cara mentrasmisikan pesan, misal kertas untuk surat, udara untuk kata-kata yang diucapkan.
Penerima (Recaiver) adalah orang yang menafsirkan pesan penerima, jika pesan tidak disampaikan kepada penerima maka komunikasi tidak akan terjadi.
Penafsiran kode (Decoding) adalah proses dimana penerima menafsirkan pesan dan menterjemahkan menjadi informasi yang berarti baginya. Jika semakin tepat penafsiran penerima terhadap pesan yang dimaksudkan oleh penerima, Maka semakin efektif komunikasi yang terjadi.
Umpan balik (Feedback) adalah pembalikan dari proses komunikasi dimana reaksi kominikasi pengirim dinyatakan. Didalam organisasi sangat membutuhkan komunikasi.

2.      Urgensi Komunikasi
Menurut Beach dlam bukunya yang berjudul “Personnel :The Management People at Work” mengatakan bahwa urgensi komunikasi dapat dilihat dari fungsi komunikasi tersebut, dimana fungsi komunikasi ialah :
·         Menyampaikan informasi pengetahuan dari satu orang kepada orang lain, sehingga akan terbentuk tindakan kerjasama.
·         Komunikasi membantu mendorong dan mengarahkan orang-orang untuk melakukan sesuatu.
·        Komunikasi membentuk sikap dan menanamkan kepercayaan ntuk mengajak, meyakinkan, dan mempengaruhi perilaku.[16]

3.      Tujuan Komunikasi
Secara umum tujuan komunikasi adalah mengharapkan adanya umpan balik (feedback) yang diberikan oleh lawan bicara kita, serta semua pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh lawan bicara kita dan adanya efek yang terjadi setelah melakukan komunikasi tersebut.
Menurut Onong Uchjana Effendy adapun beberapa tujuan komunikasi adalah sebagai berikut :[17]
a.       Supaya gagasan kita dapat diterima oleh orang lain dengan pendekatan yang persuasif bukan memaksakan kehendak.
b.      Memahami orang lain, kita sebagai pejabat atau pimpinan harus mengetahui benar aspirasi masyarakat tentang apa yang diinginkannya, jangan mereka menginginkan arah ke barat tapi kita memberi jalur ke timur.
c.       Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu, menggerakkan sesuatu itu dapat bermacam - macam mungkin berupa kegiatan yang dimaksudkan ini adalah kegiatan yang banyak mendorong, namun yang penting harus diingat adalah bagaimana cara yang terbaik melakukannya.
d.      Supaya yang kita sampaikan itu dapat dimengerti sebagai pejabat ataupun komunikator kita harus menjelaskan kepada komunikan (penerima) atau bawahan dengan sebaik-baiknya dan tuntas sehingga mereka dapat mengikuti apa yang kita maksudkan
Jadi dapat dikatakan bahwa tujuan komunikasi itu adalah mengharapkan pengertian, dukungan, gagasan dan tindakan. Serta tujuan utamanya adalah agar semua pesan yang kita sampaikan dapat dimengerti dan diterima oleh komunikan.

4. Macam-macam Komunikasi dan Manfaatnya
A. Komunikasi intrapesonal
Komunikasi intrapersonal merupakan komunikasi dengan diri sendiri dengan tujuan untuk berfikir,melakukan penalaran, menganalisis dan merenung. Demikian menurut Effendy tentang pengertian komunikasi  intrapersonal atau komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi yang berlangsung  dalam diri seseorang.orang itu berperan baik sebagai komunikator maupun sebagai komunikan.[18]
B. Komunikasi Antarpersonal
Komunikasi antarpersonal  adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika.[19]
C. Komunikasi kelompok
1.komunikasi dalam kelompok besar
Komunikasi dalam kelompok besar (large group,massa atau macro group)
Tidaklah selalu sama dengan komunikasi  dalam kelompok kecil meskipun setiap kelompok besar pasti terdiri atas beberapa kelompok kecil.hal ini antara lain dikarenakan beberapa hal sebagai berikut :
Komunikasi dalam kelompok besar jumlahnya yang besar (ratusan atau ribuan orang) di mana dalam suatu situasi komunikasi yang sedang berlangsung hampir tidak terdapat kesempatan untuk memberikan tanggapan secara verbal dan personal karna sedikit sekali kemungkinannya bagi komunikator untuk bertannya jawab.
Situasi dialogis hampir tidak ada
Sebaiknya pembicara senantiasa perlu lebih fokus dalam arah pembicaraannya sehingga pendengar akan dapat mudah mencerna pesan pembicara.
2. Komunikasi kelompok kecil.
Komunikasi kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan yang relative kecil yang masing-masing dihubungkan oleh beberapa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu diantara mereka.
Contoh : komunikasi antar manager dengan sekumpulan karyawan
D. Komunikasi massa
            Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi secara institusional dan teknologis dari sebagian besar aliran pesan yang dimiliki bersama secara berkelanjutan dalam masyarakat-masyarakat industrial Komunikasi adalah interaksi yang dapat memberikan pemahaman. Dalam sebuah komunikasi ada proses dan usaha untuk memahami dan dipahami. Apabila kita bicara, tetapi belum dipahami oleh orang yang diajak bicara, maka dikatakan belum berkomunikasi. Itulah hakekat dari komunikasi.[20]
Dalam komunikasi terjadi interaksi dua arah, antara yang berbicara dan yang diajak bicara. Dalam dunia pendidikan, komunikasi dilakukan oleh guru dengan murid. Untuk menciptakan komunikasi yang efektif maka berusahalah untuk menghindari salah persepsi.
            Ada tiga hal yang perlu dalam berkomunikasi. Ketiga hal ini merupakan rangkaian yang tak terpisahkan, yaitu :
a. Maksud yang hendak dikomunikasikan
Setiap kali guru hendak berkomunikasi, tentunya ada maksud tertentu. Apakah itu dalam bentk memberikan pengakuan, bimbingan, maupun perbaikan. Tentunya itu semua adalah  untuk kepentingan anak didik dengan komunikasi itu terjadi perubahan ke arah yang lebih baik.
b. Cara mengomunikasikan
Meskipun mempunyai maksud yang baik, belum tentu komunikasi itu mampu mempengaruhi anak. Cara mengkomunikasikan masalah sangat menentukan kualitas komunikasi dan hasil yang diharapkan. Kadang-kadang maksud yang baik tetapi caranya kurang baik, maka diterima kurang baik. Sebaiknya, komunikasi dilakukan dengan cara yang baik.
c. Maksud bisa diterima
Bila cara komunikasi yang dilakukan oleh guru tepat, maka maksud yang hendak dikomunikasikan akan dapat diterima. Sebaiknya, bila cara mengomunikasikan informasi tidak tepat, maka informasi tidak sampai pada anak.[21] Komunikasi memegang peranan yang amat penting bagi kesuksesan seorang guru. Guru yang sukses mampu melakukan komunikasi yang efektif. Hampir setiap saat guru berkomunikasi dengan guru, teman, maupun orang tua. Komunikasi dengan siswa akan berbeda dengan sesama guru, dan orang tua.
Adapun beberapa hal yang perlu diketahui ketika berkomunikasi dengan siswa. Komunikasi tidak selalu dengan bahasa verbal, bisa juga dilakukan dengan menggunakan bahasa nonverbal, yaitu bahasa tubuh, diantaranya :
a. Ekspresi wajah
b. Tatapan mata
c.  Gerak tubuh
d.  Intonasi atau nada suara
Komunikasi yang efektif dalam proses pembelajaran sangat berdampak terhadap keberhasilan pencapaian tujuan. Komunikasi dikatakan efektif apabila terdapat aliran informasi dua arah antara komunikator dan komunikan dan informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut. Jika dalam pembelajaran terjadi komunikasi yang efektif antara pengajar dengan mahasiswa, maka dapat dipastikan bahwa pembelajaran tersebut berhasil. Sehubungan dengan hal tersebut, maka para pengajar, pendidik, atau instruktur pada lembaga-lembaga pendidikan atau pelatihan harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Kemampuan komunikasi yang dimaksud dapat berupa kemampuan memahami dan mendesain informasi, memilih dan menggunakan saluran atau media, serta kemampuan komunikasi antar pribadi dalam proses pembelajaran.
C.    Etika Dalam Komunikasi
Definisi dan Pengertian Etika Komunikasi Agar Dapat Berkomunikasi Dengan Baik, Definisi dan pengertian etika komunikasi adalah sebuah aturan yang menyangkut tata bahasa atau etika ketika melakukan sebuah pembicaraan pada seseorang atau pada khalayak ramai. pengertian etika komunikasi adalah hal yang perlu dipelajari dan juga dilakukan oleh setiap orang. Etika sendiri berasal dari bahasa yunani yang berarti karakter,kebiasaan, watak, dengan adanya etika ini tentunya seseorang harus lebih baik dalam bersikap atau bertingkah laku. Sedangkan komunikasi adalah sebuah cara untuk dapat menyampaikan apa yang ada dalam pikiran seseorang pada orang lain. Jika kata etika komunikasi ini digabungkan maka akan berarti bahwa seseorang harus dapat berperilaku yang baik dalam menyampaikan apa yang ada dalam pikiran pada orang lain. Etika berkomunikasi yang baik : Etika berkomunikasi sendiri tentunya tidak sembarangan. Kita harus dapat melihat situasi dan kepada siapa hendak berbicara. Tentunya akan berbeda ketika berhadapan dengan anak kecil, tempan sebaya atau mereka yang sudah tua. Akan sangat berbeda ketika kita berbicara pada seseorang anak dan juga pada teman sebaya. Kita tentu akan berbicara secara lembut dan juga pelan pada seorang anak kecil apalagi pada bayi. Sedangkan ketika kita berhadapan dengan teman sebaya, tentunya kita akan dapat berkata dan juga berbicara dengan agak bebas. Hal ini tentu akan sangat berbeda ketika berbicara pada orang tua atau atasan ada beberapa batasan dan cara berbicara yang harus diperhatikan, agar dapat diterima dengan baik, dan tidak menyinggung perasaan orang yang diajak berbicara tersebut. Jika dilihat dari segi filsafat ilmu, komunikasi itu adalah cara kita menjelaskan opini dan apa yang ada dibenak hati dan pikiran kita kepada masyarakat luas atau individu agar memahai konteks dan teks logika kita. David Hume mengatakan : The sole end of logic is to explain the principles and operations of our reasoning faculty, and the nature of our ideas, morals and criticism regard our tastes and sentiments and politic concider men as united in society, and dependent on each other.[22] Satu-satunya akhir logika adalah untuk menjelaskan prinsip dan operasi dari penalaran kita, dan sifat dari ide-ide kita, moral dan kritik menganggap selera dan sentimen kami, dan politik menganggap sebagai bersatu dalam masyarakat, dan tergantung satu sama lain,jadi komunikasi itu proses penyaluran prinsip, alasan-alasan secara alamiah dari ide kita dan moral, kritikan-kritikan secara mental dan sentimen dan politik, maka dari itu etika dalam komunikasi sangat penting sekali bagi manusia.
أقسام العلوم و أنواعها، إثبات النظر و الإستدلال. الخبر المتوتر يفيد العلم. شروط العلوم و الإدركات. ما يعلم بالعقل و ما يعلم بالشرع. النظر الصحيح يفيد العلم و كيفية إفادة النظر للعلم. و شروط النظر. و أقسام الدليل. و جعلوا تلك المسائل مقدمات ضرورية من أجل معرقة الله تعالى. فالعلم عندهم قسمان : ضرورى و مكتسب أو نظرى. و الضرورى و هو الذى يلزم نفس المخلوق لزوما لا يجد إلى الانفكاك عنه سبيلا أى أن وقوعه له من غير إستدلال منه ولا قدرة له عليه : و هو قسمان : حسى و بديهى. و النظرى هو ما يختاج إلى نظر و كسب. فالطفل حين يولد يكون لا علم عنده و لا تمييز. و هم بهذا يجعلون العلم حاصلا للإنسان بعد ولادته فاهمين الأية الكريمة :
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«øx© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur   öNä3ª=yès9 šcrãä3ô±s? ÇÐÑÈ (النحل : 78)   [23]
Pendapat diatas adalah penekanan dari pendapat David Hume yang mana seorang manusia itu dalam mendapatkan suatu ilmu dan pengetahuan melalui panca indranya dan baru diproses oleh akal, setelah itu kesan dan ide-idelah yang menentukan tindakan manusia itu sendiri , sebagai mana yang dijelaskan dalam surat An-Nahl ayat 78, Selain itu ketika kita berbicara hendaklah untuk berkata hal yang sebenarnya, menggunakan sapaan yang baik, menggunakan tata bahasa yang baik, menggunakan gesture atau gaya tubuh ketika berbicara yang baik, tidak emosional, dan menggunakan intonasi yang baik. Definisi dan pengertian etika komunikasi adalah tidak selalu menggunakan bahasa yang dikeluarkan oleh mulut, namun juga bahasa tubuh, dan juga bahasa lainnya. Jika kita dapat menggunakan etika berkomunikasi dengan baik tentunya akan lebiih dihormati dan dihargai, ketika sedang berbicara.
D.    Fakta Empiris Pentingnya Etika dalam Komunikasi
Beberapa waktu lalu, beredar video gubernur Jakarta , Ahok  yang membuat pernyataan kontraversi. Pernyataannya sarat dengan nada profokatif dan berbau sara. Ia menyarankan agar umat Islam tidak terprofokasi dan dibodohi dengan surat al-Maidah ayat 51. Akibatnya terjadi kegaduhan di republik inil.
Berikut kami sampaikan pernyataan Ahok yang sangat kontraversi itu:
Saya ingin cerita ini supaya bapak ibu semangat. Jadi nggak usah pikiran, ‘ah… nanti kalau nggak kepilih pasti Ahok programnya bubar’, Nggak, saya sampai Oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai Surat Al Maidah 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih, ‘karena saya takut masuk neraka’, dibodohin gitu ya. Nggak apa-apa, karena ini panggilan pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja,”.[24]
Tentu saja umat Islam tersinggung. Nada bicaranya yang ceplas-ceplos sangat merendahkan al-Quran. Di dunia ini, penganut agama manapun, jika ayat suci dihina dan direndahkan akan tersinggung. Hanya mereka yang Islam KTP saja, yang menganggap persoalan ini biasa-biasa saja. Agama adalah hak setiap manusia. Ia tidak boleh dihina dan direndahkan. Agama menjadi urusan yang sangat substansial, karena ia menyangkut kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Melecehkan agama, akan berdampak sangat fatal bagi kehidupan bermasyarakat, karena akan mengganggu hubungan antar sesama manusia. Pelecehan terhadap agama, bukan sekadar menimbulkan kegaduhan, namun dapat memicu pertumpahan darah dan perang berkepanjangan.
Disini penulis berpendapat bahwasanya pentingnya Etika dalam berkomunikasi itu perlu dipelajari dan dimiliki oleh setiap orang, dilihat dari kasus diatas, dikarenkan tidak adanya etika dalam berkomunikasi yang mana dapat menimbuklan SARA bahkan dapat membuat kegemparan diseluruh negeri khusunya indonesia. David hume mengatakan : Begins with some definitions, he calls a preceptions whatever can be present to the mind, whether we employ our senses or are actuated with passion, or exercise our thought and reflection, he devides our perceptions into two kinds impressions and ideas.[25] Beberapa definisi, ia menyebut persepsi apa pun dapat hadir untuk pikiran, apakah kita menggunakan indra kita atau digerakkan dengan gairah, atau berolahraga pikiran dan refleksi kita. Dia membagi persepsi kita menjadi dua jenis, yaitu, kesan dan ide-ide. Dari pendapat ini bahwasanya ketika kita berkomunikasi dengan etika yang baik maka para pendengar akan menangkap komunikasi kita dengan baik dengan kesan-kesan dan ide-ide yang baik pula, begitu pula sebaliknya, walau ada sebagian kecil klompok atau pendengar ketika kita sudah menggunakan etika yang santun dalam berkomunikasi ada sebagian pendengar yang negative thinks terhadap kita.


BAB III
SIMPULAN


Simpulan

Etika adalah Ilmu yang mempelajari tentang segala bentuk kebaikan dan keburukan di dalam manusia semuany,teristimewea yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan sampai mengenai tujuan yang dapat merupakan perbuatan. Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia..
Pengertian etika komunikasi adalah hal yang perlu dipelajari dan juga dilakukan oleh setiap orang. Etika sendiri berasal dari bahasa yunani yang berarti karakter,kebiasaan, watak, dengan adanya etika ini tentunya seseorang harus lebih baik dalam bersikap atau bertingkah laku. Sedangkan komunikasi adalah sebuah cara untuk dapat menyampaikan apa yang ada dalam pikiran seseorang pada orang lain. Jika kata etika komunikasi ini digabungkan maka akan berarti bahwa seseorang harus dapat berperilaku yang baik dalam menyampaikan apa yang ada dalam pikiran pada orang lain. Etika berkomunikasi yang baik



DAFTAR PUSTAKA


A.Toto Suryana, Pendidikan Agama Islam, Cet. I, Bandung: Tiga Mutiara, 1997
Achmad Charris Zubair-Ed, Kuliah Etika ,cet-3.Jakarta:  Raja Grafindo Persada,1995
Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi, Jakarta: Bumi Aksara, 2009
Bertens, K. Etika ,Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991
Beni Ahmad Saebani, Ilmu Akhalak, Cet II, Bandung : Puataka Setia, 2012
Keraf, A. Sonny. Etika Bisnis Membangun Citra Bisnis Sebagai Profesi Luhur. Yogyakarta: Kanisius, 1991
H. Devos, Pengantar etika, Yogyakarta : Tirtawarna,1994
M.Amin Abdulloh, Filsafat etika Islam, Bandung : Mizan, 2002
M. Yatimin Abdullah, Pengantar Studi Etika, Ed. 1, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
M. Arfah, Shiddiq, dkk, Akhlak dan Tasawuf, Ujung Pandang, Lembaga Dakwa dan Studi Islam Yayasam Wakaf UMI, 1996
 Najib Sulhan, Karakter Guru Masa Depan, Surabaya : JP Books, 2010
 Ruben, Brent D,Stewart, Lea P, Communication and Human Behaviour, USA: Alyn and Bacon 2005
Stanley Rosen, The Philosopher’s Hand Book, Essential Reading from Plato to Kant, America : Random House Reference, 2003
Moekijat. Teori Komunikasi, Bandung : Mandar Maju, 1993
Marhaeni Fajar, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009
 Hafied Cangara, Pengantar Ilmu komunikasi. Jakarta : Rajagrafindo Persada, 2010
Onong Uchyana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung: Rosdakarya, 2009
Rajih Abdul Hamid Al-Kurumy, Nadzoriyatul Ma’rifah Baina Al-Qur’an wal Falsafah, Riyadh : Maktabah Mu’yad, 1996




[1] . Bertens, K. Etika, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991) hlm.  9
[2] . Beni Ahmad Saebani, Ilmu Akhalak, Cet II, (Bandung : Puataka Setia, 2012). hlm. 26-27
[3] . A. Toto Suryana, Pendidikan Agama Islam, Cet. I, (Bandung: Tiga Mutiara, 1997), hlm. 104
[4] . Achmad Charris Zubair-Ed, Kuliah Etika ,cet-3.(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,1995), hlm 15
[5] . H. Devos, Pengantar etika, (Yogyakarta : Tirtawarna,1994), hlm 4
[6] . M.Amin Abdulloh, Filsafat etika Islam, (Bandung : Mizan, 2002), hlm 15
[7] . M. Yatimin Abdullah, Pengantar Studi Etika, Ed. 1, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada), hlm 10
[8] . Keraf, A. Sonny. Etika Bisnis Membangun Citra Bisnis Sebagai Profesi Luhur. (Yogyakarta: Kanisius, 1991) hlm 23
[9] . M. Yatimin Abdullah, Pengantar Studi Islam, hlm 10-11
[10].  M. Arfah, Shiddiq, dkk, Akhlak dan Tasawuf, (Ujung Pandang, Lembaga Dakwa dan Studi Islam Yayasam Wakaf UMI, 1996 ) hlm. 54
[11] . Ruben, Brent D,Stewart, Lea P, Communication and Human Behaviour,( USA: Alyn and Bacon 2005), hlm. 16
[12] . Moekijat. Teori Komunikasi, (Bandung : Mandar Maju, 1993), hlm 2-3
[13] . Marhaeni Fajar, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), hlm 32.
[14] . Hafied Cangara, Pengantar Ilmu komunikasi. (Jakarta : Rajagrafindo Persada, 2010), hlm 20-21
[15] . Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm 4
[16]Moekijat. Teori Komunikasi, hlm 7
[17] . Onong Uchyana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek (Bandung: Rosdakarya, 2009), hlm 18
[18] . Onong Uchjana Effendi, Ilmu Komunikasi ; Teori dan Praktek, hlm 57.
[19] . Onong Uchjana Effendi, Ilmu Komunikasi ; Teori dan Praktek, hlm 59-60.
[20] . Najib Sulhan, Karakter Guru Masa Depan,( Surabaya : JP Books, 2010), hlm 152
[21] . Najib Sulhan, Karakter Guru Masa Depan, hlm 152
[22] . Stanley Rosen, The Philosopher’s Hand Book, Essential Reading from Plato to Kant, (America : Random House Reference, 2003), hlm 440
[23] . Rajih Abdul Hamid Al-Kurumy, Nadzoriyatul Ma’rifah Baina Al-Qur’an wal Falsafah, ( Riyadh : Maktabah Mu’yad, 1996), hlm 644
[25] . Stanley Rosen, The Philosopher’s Hand Book, Essential Reading from Plato to Kant, hlm 440